METODE PENELITIAN KUALITATIF: SELAYANG PANDANG

Apa makna penelitian kualitatif?

 

Jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.Misalnya, penelitian tentang kehidupan, riwayat,dan perilaku seseorang, di samping juga tentang peranan oraganisasi, pergerakan sosial,dst.

Yang akan kita pelajari mulai sekarang ini adalah penelitian yang prosedur analisisnya non-matematis. Prosedur ini menghasilkan temuan yang diperoleh dari data-data yang  dikumpulkan dengan menggunakan beragam sarana. Sarana itu meliputi pengamatan (observasi ) dan wawancara,kemudian juga dokumen, buku, kaset video, dan bahkan data yang telah dihitung untuk tujuan lain, misalnya data sensus.

 

Mengapa penelitian kualitatif kita pilih ?

 

Ada bermacam alasan dalam memilih penelitian kualitatif.Pertama, karena pengalaman dan spesialisasi seorang ahli, misalnya yang latar belakang ilmunya adalah antroplogi atau filsafat biasanya dianjurkan untuk menggunakan metode kualitatif dalam mengumpulkan dan menganalisis data.

Sebab lainnya, adalah sifat dari masalah yang diteliti.Untuk mengungkap masalah yang berkenaan dengan pengalaman seseorang ketika menghadapi fenomen tertentu ( seperti ketagihan obat, sakit menjelang kematian dsb) lebih cocok digunakan metode kualitatif. Selain itu metode ini juga sesuai bila kita hendak mendapatkan wawasan tentang sesuatu yang  baru sedikit diketahui, karena metode kualitatif dapat memberikan rincian yang kompleks tentang fenomena yang sulit diungkapkan oleh metode kuantitatif.

 

Di bidang apakah penelitian kualitatif dapat diterapkan?

 

Penelitian kualitatif bisa dilakukan oleh peneliti di bidang ilmu sosial dan perilaku, juga oleh para peneliti di bidang yang menyoroti masalah yang terkait dengan  perilaku dan peranan manusia. Jenis penelitian ini bisa digunakan untuk meneliti organisasi, kelompok dan individu.

 

Bagaimanakah keragaman penelitian kualitatif ?

 

Kalau dilihat dari jenis penelitiannya, bisa berupa pendekatan teoritisasi data ( grounded theory approach),etnografi, pendekatan fenomenologi, riwayat hidup (life histories), analisis percakapan,analisis wacana, dsb.

 

Perihal Grounded Theory

 

Apa makna “grounded theory?” ?

 

Teori yang grounded adalah teori yang diperoleh secara  induktif dari penelitian tentang fenomena yang dijelaskan. Pengumpulan data, analisis dan teori saling terkait dalam hubungan timbal balik. Peneliti tidak memulai penyelidikan dengan satu teori tertentu lalu membuktikannya, namun dengan suatu bidang kajian dan hal-hal yang terkait dengan bidang tersebut.

 

Tujuan metode grounded theory adalah menyusun teori yang sesuai dengan dan menjelaskan tentang bidang yang diteliti.

 

Bagaimana merumuskan masalah dalam “grounded theory?”

 

Karena tujuan dari penelitian grounded adalah justru menghasilkan/menyusun teori maka kita memerlukan perumusan masalah yang memberi kita kelonggaran dan kebebasan untuk menggali fenomena secara mendalam.Di sini berlaku asumsi bahwa semua konsep yang berhubungan dengan fenomena yang hendak diteliti memang belum dapat diidentifikasi.Hubungan antar konsep masih belum dipahami atau belum tersusun secara sistematis.

 

Pada mulanya rumusan pertanyaan itu  masih bersifat luas,namun selanjutnya semakin dipersempit dan lebih difokuskan selama proses penelitian.Namun tidak berarti bahwa rumusan penelitian tersebut demikian sempit dan terfokusnya sampai temuannya  justru tidak terwujud.Upaya ini tidak memerlukan  pernyataan tentang adanya hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas sebagaimana lazimnya dalam penelitian kuantitatif.

 

Rumusan masalah penelitian dalam teoritisasi data adalah suatu pernyataan yang mengidentifikasi fenomena yang diteliti.Pada rumusan masalah, akan terdeteksi apa yang terutama ingin kita soroti dan apa yang ingin kita ketahui mengenai subjeknya. Perumusan masalah dalam grounded theory juga cenderung berorientasi pada proses dan tindakan.

 

 

PENJELASAN TENTANG MODEL PENELITIAN KUALITATIF

 

Banyak model penelitian kualitatif yang bisa kita pilih ( selain grounded theory), dibawah ini akan kita pelajari beberapa di antaranya.

 

ETNOGRAFI : <secara harafiah berarti tulisan atau laporan tentang suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan selama sekian bulan atau sekian tahun >

Penelitian memusatkan pada kajian latar /setting yang “asing” dan berbeda dengan konteks budaya penelitinya.Sering dipakai dalam penelitian antropologi.

Tujuan penelitian etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya masyarakat, yaitu way of life.Untuk mencapai tujuan itu, peneliti sekaligus harus melakukan interview dengan beberapa informan dan melakukan observasi sambil berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Ciri khas penelitian lapangan etnografi adalah bersifat holistik integratif, thic description, dan analisis kualitatif untuk mendapatkan  native’s point of view. Teknik pengumpulan datanya yang utama adalah  observasi-partisipasi dan wawancara secara terbuka dan mendalam, dalam jangka waktu yang relatif lama dan berbeda dengan penelitian survai.

 

ETNOMETODOLOGI :

Studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari-hari. Subjeknya bukanlah orang-orang atau suku-suku terasing tetapi masyarakat modern seperti yang biasa dilihat / ditemui peneliti sehari-hari.

Pengertian etnometodologi lebih mangacu pada suatu studi mengenai bagaimana seseorang individu dalam suatu komunitas bertindak dan bertingkah laku serta berusaha memahami kehidupan sehari-hari aktor yang diteliti.Dengan kata lain, etnometodologi mengisyaratkan upaya mendeskripsikan dan memahami masyarakat dala kehidupan sehari-hari, misalnya bagaimana pola interaksi, cara berpikir, perasaan mereka, dan cara bicara mereka.

 

STUDI KASUS:

Secara umum studi kasus merupakan strategi yang cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan ”how” atau “why”, bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya  terletak pada fenomena kontemporer (masa kini ) di dalam konteks kehidupan nyata.

Terdapat dua variasi model studi kasus: kasus tunggal dan kasus ganda. Masing-masing model tersebut dilipah lagi jadi “ kasus holistik dan terpancang.

Penjelasan: kasus tunggal jika kasusnya hanya satu; kasus ganda jika kasusnya lebih dari satu.Kasus terpancang : bila sudah ditentutan “variabel utama” yang akan jadi fokus studi pada saat menyusun proposal; kasus holistik ; fukis studi ditentukan setelah peneliti menelusuri  cukup lama di lapangan studi dan menemukan hal yang sangat menarik dan dipandang penting dijadikan fokus dalam laporannya.

 

STUDI INTERPRETATIF DAN KRITIK

Studi yang mengungkap makna sesuatu ( karya, peristiwa, atau kondisi sesuatu)dengan menggunakan pendekatan kritik ( seni ); analisis semiotik;analisis wacana; analisis framing media, dsb. Pengumpulan data/analisis umumnya menggunakan analisis dokumen/teks.

 

Studi “Historical”

Merekam secara cermat kejadian dan menjelaskan keterhubungan di antara peristiwa2, orang2, di masa yang lalu.Pendekatannya juga studi kritik.Khusus mengenai studi sejarah ini terdapat 7 tipe studi sejarah yang bisa diterapkan :

  1. Biographical studies
  2. Movement or idea studies
  3. Regional studies
  4. Institutional studies
  5. Case histories
  6. Selected studies
  7. Editorial studies

Contoh yang pernah ada :

Sejarah pers lokal/ nasional

Sejarah pembreidelan Pers ( kasus Tempo, Detik, Editor)

Pemikiran kritis tokoh tertentu dalam kolom2 surat kabar di masa lalu.

 

METODE PENGUMPULAN DATA

 

Alat untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri.

 

Metode pengumpulan data yang utama adalah observasi atau wawancara.

 

 

MANUSIA SEBAGAI INSTRUMEN PENELITIAN

 

Apa kelebihan dari “manusia sebagai alat penelitian “

  1. peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungannya yang harus diperkirakan bermakna atau tidak bagi penelitian.
  2. peneliti sabagai alat dapat menyesuaikan diri dengan segala keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.
  3. suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata-mata. Untuk memahaminya kitasering perlu merasakannya, menyelaminya berdasarkan penghayatan kita.
  4. peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh
  5. dengan manusia sebagai alat penelitian, respon yang aneh, yang menyimpang justru diberi perhatian.Respon yang lain daripada yang lain, bahkan yang bertentangan dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman mengenai aspek yang diselidiki.

 

OBSERVASI

Bagaimana observasi dilakukan dalam penelitian kualitatif?

Bila kita hendak mengenal dunia sosial, kita harus memasuki dunia itu. Kita harus hidup di kalangan manusia,mempelajari bahasanya,melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi, mendengarkan dengantelinga sendiri apa yang dikatakan, pikirkan dan rasakan.

Observasi bukanlah pekerjaan yang mudah karena sesungguhnya mengandung hal-hal yang rumit.

  1. Tidak ada pengamatan dua orang yang sama. Karena apa yang kita amati adalah ekspresi diri kita yang dipengaruhi oleh pengalaman, latar belakang pendidikan,perasaan, nilai-nilai, harapan dll
  2. Obervasi adalah proses yang aktif.Kita berbuat sesuatu, kita memilih apa yang kita amati.
  3. Tidak ada pengamatan yang lengkap karena pengamatan adalah kegiatan selektif.Tak mungkin kita mengamati segala sesuatu, sekalipun kita berusaha mengamati sebanyak mungkin.
  4. Dalam tiap pengamatan kita harus memperhatikan dua hal : yakni informasi( misalnya apa yang terjadi ) dan  konteks ( hal-hal yang berkaitan dengan sekitarnya).Informasi yang dilepaskan dari konteksnya akan kehilangan makna. Jadi makna sesuatu hanya diperoleh dalam kaitan informasi dengan konteksnya.
  5. Dalam penelitian naturalistik kita diminta untuk memberikan deskripsi hasil pengamatan kita. Deskripsi ini harus kita pisahkan dengan  komentar,tafsiran, analisis dan label yang kita berikan. ( Catatan : deskripsi adalah hal-hal yang nyata berdasarkan pengamatan, akan tetapi label atau tafsiran masih dapat berubah bila kita peroleh data baru yang mungkin membantah tafsiran itu.
  6. Ketika kita memberikan deskripsi maka yang terjadi adalah proses analitik. Sedangkan kalau kita memberi label berarti terjadi proses sintetik.
  7. Dalam penelitian naturalistik peneliti diharuskan lebiuh dahulu membeerikan deskripsi fakta-fakta. Langsung melompat kepada kesimpulan dengan memberikan label menyalahi prosedur observasi dalam penelitian naturalistik.

 

Hal-hal apakah yang dapat diamati?

Menurut J.P Spradley ( dalam Nasution1988:63) dalam tiap situasi terdapat tiga komponen yakni ruang (tempat), pelaku ( aktor) dan kegiatan ( aktivityas ).Dari ketiga dimensi tersebut dapat diperluas sehingga yang dapat diamati adalah :

  1. Ruang ( tempat ) dalam aspek fisiknya
  2. Pelaku, yaitu semua orand yang terlibat dalam situasi
  3. Kegiatan, yaitu apa yang dilakukan orang dalam situasi itu
  4. Objek, yaitu benda-benda yang terdapat di tempat itu
  5. Perbuatan, tindakan-tindakan tertentu
  6. Kejadian atau peristiwa, yaitu rangkaian kegiatan
  7. Waktu, urutan kegiatan
  8. Tujuan, apa yang ingin dicapai orang, makna perbuatan orang
  9. Perasaan, emosi yang dirasakan dan dinyatakan.

Kesembilan dimensi itu masing-masing dapat saling dikombinasikan, misalnya Ruang – Pelaku, Ruang – Kegiatan, Ruang- Objek, dan sebagainya, sehingga kita perolah matriks yang terinci mengenai hal-hal yang dapat menjadi  fokus pengamatan kita.

 

WAWANCARA

 

Bagaimana wawancara dilakukan dalam penelitian kualitatif?

 

Wawancara dilakukan dangan secara terbuka .Pada mulanya peneliti bisa mengajukan pertanyaan yang tidak berstruktur (karena pada tahap awal si peneliti sendiri “ tidak tahu apa yang tidak diketahuinya”)

, artinya responden mendapat kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan huah pikiran, pandangan, dan perasaannya tanpa diatur ketat oleh peneliti. Setelah peneliti memperoleh sjumlah keterangan maka ia dapat mengadakan wawancara yang lebih berstruktur berdasarkan apa yang telah disampaikan informan tersebut.

 

Tujuan wawancara ialah untuk mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran dan hati orang lain, bagaimana pandangannya tentang dunia, yaitu hal-hal yang tidak kita ketahui melalui observasi. Setiap kali kita mengadakan wawancara kita harus menjelaskan apa tujuan kita berwawancara dengan dia, keterangan apa yang kita harapkan dari dia. Penjelasan itu mengarahkan jalan pikirannya, sehingga ia tahu apa yang akan disampaikannya. Penjelasan itu sedapat-dapatnya dilakukan dalam bahasa dan istilah-istilah yang dipahami sendiri oleh informan.

 

Isi wawancara secara garis besar mencakup :

  1. Pengalaman dan perbuatan informan, yakni apa yang telah dikerjakan dan lazim dikerjakan
  2. Pendapat, pandangan, tanggapan, tafsiran atau pikirannya tentang sesuatu
  3. Perasaan, respn emosional, yakni apakah ia merasa cemas, takut, senang, gembira, curiga, jengkel, dan sebagainya tentang sesuatu
  4. Pengetahuan, fakta-fakta , apa yang diketahuianya tentang sesuatu
  5. Penginderaan, apa yang dilihat, didengar, diraba,dikecap atau diciumnya, diuraikan secara deskripsi
  6. Latar belakang pendidikan, pekerjaan, daerah asal, tempat tinggal, keluarga dsb.

 

Bagaimana mengurutkan pertanyaan dalam wawancara ?

Meski tidak ada patokan yang pasti tetapi ada baiknya memperhatikan hal-hal berikut ini :

  • Jangan mulai dengan hal-hal yang kontroversial atau sensitif yang dapat menimbulkan pertentangan
  • Mulailah dengan hal –hal masa sekarang seperti pekerjaan, pengalaman atau tindakan
  • Langsung menanyakan hal-hal mengenai pengatahuan atau ketrampilan informas dapat dipandang sebagai ujian dan merusak kesantaian suasana.
  • Jangan segera ditanya mengenai masa lampau responden. Sering orang tidak suka bila masa lalunya dibongkar orang dan karena itu harus dibatasi dan hanya diselipkan di antara pertanyaan lain dalam konteks topik yang dibicarakan.

 

 

Data yang diperoleh dalam wawancara senantiasa dapat diperhalus, dirinci dan diperdalam,. Itulah sebabnya disebut “soft data” karena masih dapat mengalami perubahan.( catatan: data dalam penelitian kuantitafif sebaliknya disebut “hard data” karena diperoleh dari angket yang sudah terjaga validitasnya)

karena data yang diperoleh dalam kualitatif masih bersifat “lunak”, maka tidak bisa segera disebut fakta yang “keras” yang tidak dapat disangkal kebenarannya. Untuk itu setiap data perlu dichek lagi kebenarannya, dengan membandingkan data yang diperoleh dari sumber yanag lain.

 

Dalam wawancara kita berhadapan dengan dua hal :

Pertama, kita harus secara nyata mengadakan interaksi dengan informan.

Kedua, kita menghadapi kenyataan, adanya pandangan orang lain yang mungkin berbeda dengan pandangan kita sendiri

 

Data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif  bersifat verbal dan non verbal. Umumnya yang diutamakan adalah data yang verbal yang diperoleh melalaui percakapan atau tanya jawab. Hasil wawancara akan disampaikan kepada  yang bersangkutan untuk diperbaiki, diubah di mana perlu.

Data non verbal berupa gerak=gerik badan, tangan dan perubahan wajah. Ada gerakan yang jelas tampak, misalnya gerakan tangan, ada pula yang halus seperti pandangan mata, gerakan bibir, perubahan warna muka yang mempunyai makna tersendiri. Makna ucapan akan lebih mudah dipahami apabilaa dihubungkan dengan gerak-gerik itu.

 

Pesan non-verbal kaya akan konteks, sedangkan pesan verbal kaya akan informasi. Pesan non-verbal dengan demikian membutuhkan pemaknaan yang dikaikan dengan konteks budayanya. Kedua jenis pesan itu sama-saa digunakan untuk memahami makna ucapan  dalam wawancara.

 

MEMBUAT CATATAN LAPANGAN

 

Apakah yang dicatat ?

Catatan terdiri dari dua bagian yakni :

  1. deskripsi yaitu tentang apa yang kita lihat, dengar dan amati dengan alat indra kita
  2. komentar, tafsiran, refleksi, pemikiran atau pandangan kita tentang apa yang kita amati itu.

 

Sitematika catatan

 

Salah satu sistematika pengkodean yang sederhana ialah sebagai berikut: deskripsi diberi kode yang dimulai huruf D disertai oleh indikator tentang hal yang diobsrvasi, sedangkan komentar atau tafsiran diberi kode R kependekan dari Refleksi atau pemikiran atau pandangan, misalnya :

DP – Deskripsi Partisipan

DD – Deskripsi Dialog

DLF – Deskripsi Lingkungan Fisik

DK – Deskrispi kejadian- kejadian

DH – Deskripsi Hubungan dengan partisan atau orang lain

RR – Refleksi tentang apa yang diRasakan oleh peneliti

RA – Refkleksi Analisis

RM – Refleksi Metodologi

RP _- Refkleksi Penjelasan

RE – Refleksi Etis

 

Sietem pengkodean di atas hanyalah sekedar contoh, masih bisa dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan memudahkan peneliti.

 

Seperti sudah dikemukakan di depan, deskripsi harus rinci, makin rinci makin bai.Apa saja perlu diperhatikan. Peneliti haruslah bersikap bahwa segala sesuatu yang sedianya biasa, harus dipandang “aneh “ dan karena itu menarik.

 

“VALIDITAS, RELIABILITAS DAN OBJEKTIVITAS” DALAM PENELITAN NATURALISIK

 

Kecaman yang dilancarkan oleh kaum positivis terhadap penelitian kualitatif atau naturalistik adalah soal syarat validitas¸reliabilitas dan objektivitas. Untuk itu perlu bagi peneliti pemula yang hendak melakukan penelitian naturalistik memahami ”tolok ukur “ yang seyogyanya diterapkan untuk menilai “validitas, reliabilitas dan objektivitas” , sehingga tidak terjadi kerancuan konsep di dalam hal tersebut.

 

Validitas

Dalam penelitian kuantitatif konsep validitas mengacu pada upaya membuktikan bahwa apa yang ada  dalam dunia  kenyataan, dan apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia mamang sesuai dengan sebenarnya ada atau terjadi. Dalam hal ini berlaku validitas internal yaitu merupakan ukuran tentang kebenaran data yang diperoleh dengan instrumen, yakni apakah instrumen itu sungguh-sungguh mengukur variebel yang sebenarnya.

 

Sementara dalam penelitian naturalistik, validitas internal menggambarkan konsep peneliti dengan konsep yang ada pada partisipan.

 

Kelemahan dalam hal validitas internal dalam penelitian kualitatif dapat terjadi karena beberapa hal:

  1. perubahan waktu, situasi dan pematangan
  2. pengaruh pengamat/ peneliti
  3. seleksi
  4. mortalitas
  5. kedangkalan kesimpulan

Penjelasan:

Perubahan waktu, situasi dan pematangan. Karena penelitian kadang berlangsung lama, maka bisa jadi telah terjadi perububahan situasi, juga partisipan dapat mengalami pematangan. Untuk itu maka peneliti harus secara sistematis membandingkan data yang dieroleh dahulu dengan data yang kemudian.

 

Pengaruh pengamat. Pada tahap permulaan partisipan kadang tidak memberikan respon yang wajar kepada peneliti  atau memberikan keterangan yang hanya menyenangkan peneliti. Untuk itu maka peneliti harus senantiasa membandingkan informasi yang didapat dengan mencari sumber informasi lain. Selain itu validitas informasi dapat dipertinggi dengan memperpanjang waktu  pengamatan/ penelitian.

 

Seleksi.  Peneliti kualitatif harus menyadari bahwa untuk memperoleh data yang valid ia harus melakukan seleksi. Artinya ia harus memilih  siapa yang tepat untuk dijadikan sumber informan.

 

Mortalitas.  Peneliti harus mewasdai kemungkinan terjadi perubahan informan karena kepindahan lokasi ,dsb. Peneliti harus melihat apakah karena kepindahan nara sumber membawa perubahan situasi.

 

Kedangkalan kesimpulan.  Dapat terjadi kalau peneliti tyerlalu cepat mengambil kesimpulan. Untuk itu maka peneliti perlu melakukan penelitian lebih lama dan lebih cermat, melakukan kritik sendiri danmempertimbangkan sumber-sumber bias atau kontaminasi.

 

Sekarang dalam kaitannya dengan konsep validitas eksternal. Dalam penelitian kuantitatif  konsep validitas eksternal berkaitan dengan generalisasi. Yakni sampai sejauhmana pernyataan generalisasi yang dirumuskan juga berlaku bagi kasus-kasus lain di luar penelitiannya. Dalam penelitian naturalistik tidak melakukan sampling acak juga tidak  mengadakan pengolahan statistik untuk mempertahankan generalisasi dan validitas eksternal. Namun bukan berarti penelitian kualitatif tidak mengindahkan validitas eksternal ini.

 

Dalam penelitian kualitatif konsep validitas eksternal berhubungan dengan kemungkinan perbandingan dengan hasil-hasil studi lain dan untuk dapat dilakukan perbandingan oleh peneliti lain, maka tugas peneliti adalah memberikan deskripsi dan definisi yang jelas tentang tiap komponen seperti konsep yang dikembangkan,karakteristik fokus kajian, dsb sehingga dapat dipahami orang lain sesuai dengan pemahaman peneliti sendiri.

 

Penjelasan tentang validitas sampai disini dapat disimpulkan bahwa  dalam penelitian kuantitatif, validitas internal berarti tercapainya aspek kebenaran atau “the truth value” hasil penelitiannnya sehingga dapat dipercaya, sedangkan dalam pengertian penelitian naturalistik validitas internal mengacu padaada tidaknya kredibilitas atau “credibility”

Sedangkan validitas eksternal, dalam penelitian kuantitatif berarti berkenaan dengan aspek generalisasi atau tingkat aplikasi sementara dalam penelitian kualitatif berarti adanya kecocokan atau kesesuaian /”fittingnes” atau dapat diterapkan /”transferability”.

 

Reliabilitas

 

Dalam penelitian kuantitafif reliabilitas berkenaan dengan apakah penelitian itu dapat diulangi atau direplikasi oleh peneliti lain dan menemukan hasil yang sama bila ia menggunakan metode yang sama. Jadi reliabilitas menunjukkan adanya konsistensi.

 

Syarat reliabilitas ini tidak mungkin dikenakan dalam penelitian kualitatif. Situasi dalam kehidupan yang nyata tak dapat diulangi. Setiap situasi hakekatnya adalah unik dan tidak dapat direkosntruksi sepenuhnya seperti semula. Selain itu proses penelitian dan pelaporan juga sangat personalistik artinya sesuai dengan karakterisktik peneliti, atau tidak ada dua peneliti yang akan menggunakan metode yang sama persis.

 

Meskipun tidak ada patokan untuk reliabilitas namun dalam penelitian naturalistik ada upaya untuk “menjaga reliabilitas internal” nya yakni :

  1. memberikan deskripsi yang konkrti, catatan ucapan dan percakapan verbatim, kutipan yang cermat, sehingga tidak memungkinkan terjadinya penafsiran yang “beraneka ragam “:
  2. mempekerjakan peneliti lebih dari seorang sehingga tiap data dan tafsiran dapat didiskusikan dan dibandingkan sampai tercapai kesesuaian pendapat.
  3. menggunakan partisipan lokal sebagai asisten peneliti, yang selalu berada di tempat dan dapat mengadakan pengamatan yang kontinu.
  4. meminta pendapat, penilaian dan kritik dari teman peneliti lainnya, misalnya dengan meminta mereka membaca laporan hasil penelitian
  5. mengupayakan pencatatan informasi dengan alat bantu perekam sehingga dapat ditangkap dan direkam dengan cermat  segala sesuatu yang diucapkan.

 

Objektivitas

 

Objektivitas seringkali dipertentangkan dengan subjektivitas.

Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bisa melakukan eskperimen berulang-ulang dalam kondisi yang sama,  dalam penelitian kualitatif tidak dapat dilakukan eksperiman untuk menguji objektivitas.

Namun peneliti kualitatif harus berusaha untuk sedapat mungkin memperkecil faktor subjektivitas. Ia harus menjauhi segala kemungkinan bias atau prasangka pada dirinya yang disebabkan oleh latar belakang hidup dan pendidikan, agama,kesukuan,status sosial, dsb.

 

Metode penelitian kualitatif menganggap bahwa hasil suatu penelitian akan objektif bila juga dibenarkan atau di-“confirm” oleh peneliti lain. Maka karena itu, untuk pengertian objektivitas lazim digunakan istilah “confirmability”

Dalam penelitian kualitatif objektivitas merupakan suatu kesesuaian intersubjektif. Bila hanya seorang mengatakannya, maka ia diangagap subjektif, akan tetapi bila hal itu dibenarkan oleh sejumlah orang lain, maka hal itu dapat dianggap objektif.

 

Cara –cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil-hasil penelitian:

1.memperpanjang masa observasi

2.pengamatan yang terus menerus

3. Triangulasi

4. membicarakan dengan orang lain (peer  debriefing)

5.menggunakan bahan referensi

6. mengadakan member check

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: