Studi Kritik Seni Holistik Sebagai Alternatif Model Penelitian Komunikasi Kualitatif

Adalah Dilthey (dalam Smith, 1984) yang menegaskan bahwa di dalam mengkaji masalah sosial budaya yang kompleks tidak memungkinkan untuk dibuatnya hukum-hukum seperti halnya ilmu alamiah. Bahkan menurutnya, tujuan penelitian budaya sama sekali bukan untuk membuat hukum-hukum. Realitas sosial dan budaya selalu terikat oleh interaksi dialektis subjek dan objeknya. Hal demikian sejalan dengan pernyataan Bergner (1981) bahwa realitas tersebut tidak mungkin dipisahkan dari kekhususan hubungan antarmanusianya yang terlibat.

Eliot Eisner (dalam Sutopo,1995) dalam disiplin ilmu humaniora menganjurkan perlunya penerapan penelitian dan evaluasi dengan menggunakan ’bahasa kritik seni’. Menurutnya, kritik seni dipandangnya merupakan pendekatan yang sangat membantu dan melengkapi kegiatan penelitian karena  kekuatannya yang mampu menyajikan deskripsi dan interpretasi yang kaya dengan nilai-nilai kehidupan manusia. Eisner dalam mengaplikasikan kritik seni ini telah mencoba menerapkannya dalam studi evaluasi program pendidikan, dan mendorong mahasiswanya di Standford University, USA untuk menggunakan kritik seni dalam penulisan desertasi mereka.  Berdasarkan pengalamannya menerapkan kritik seni tersebut dia menyimpulkan setidaknya ada tiga aspek yang bisa disajikan melalui kritik seni, yaitu : (1) aspek deskriptif, (2) aspek interpretif, dan (3) aspek evaluatif (Sutopo, 1995: 6) .

Bagaimana penerapan studi kritik seni sebagai alternatif dalam penelitian komunikasi kualitatif? Sebelum membahas pokok diskusi ini perlu kiranya disampaikan catatan mengenai apa sejatinya kritik seni holistik itu terlebih dahulu. Pemahaman ini menurut kami perlu dijernihkan terlebih dahulu sehingga bisa menjadi dasar dalam mempertimbangkan studi kritik seni tersebut sebagai alternatif model penelitian komunikasi.

*

Para ahli yang berkecimpung dalam studi kritik seni pada dasarnya tidak bisa lepas dari persoalan sumber nilai seni yang dianggap sah dalam mengevaluasi sebuah karya. Setidaknya terdapat tiga pengelompokkan dalam sejarah kritik seni, yaitu: (1) kelompok kritik seni genetik atau historis, (2) kelompok kritik formalistik atau kritik instrinsik, (3) kelompok kritik emosional (Sutopo,1988). Pengikut kritik historisme menekankan pengkajian pada faktor genetik atau latar belakang budaya penciptanya. Kelompok formalisme menekankan nilai pada karya seni itu sendiri (objektif). Sementara kelompok kritik emosionalisme menekankan pada emosi yang timbul pada penghayatnya (afektif).

Kecenderungan kritik yang hanya menekankan pada salah satu komponen kehidupan seni seperti di atas mengakibatkan kepincangan dalam penilaian karya.  Ketiga komponen kehidupan seni tersebut adalah nyata dan saling berkaitan erat serta saling tergantung dalam menentukan karya seni. Keberadaannya  tak bisa dipisahkan dan jelas sebagai sumber nilai yang wajib diperhatikan dan dianalisis secara utuh, tepat dan teliti bagi pengambil keputusan tentang makna karya. Ketiga komponen tersebut bukan dipakai sebagai standar nilai, melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi.  Pandangan ini merupakan sintesis yang memandang faktor ( genetik, objektif, dan afektif) tak terpisahkana  dalam kesatuan nilai karya. Bentuk kritik seni semacam ini disebut sebagai kritik seni holistik (Sutopo, 1987;1989).

*

Berdasarkan telaah mengenai sejarah lahirnya pendekatan kritik seni holistik tersebut kita bisa mencoba mengkaitkannya dengan polemik yang terjadi dalam studi interpretasi terhadap teks atau media yang terjadi dalam kajian komunikasi. Dalam perspektif interpretatif, kajian komunikasi memang memiliki kemiripan dengan studi kritik seni di atas misalnya ketika si penfasir teks berusaha mencari kepastian di mana lokus makna sebuah teks itu berada? Jatuhlah misalnya pendekatan yang menekankan bahwa makna itu bergantung pada si pencipta teks  (intentio auctoris); atau makna itu tersembunyi pada sebuah teks (intentio operis) dan kemudian yang meyakini bahwa makna itu sepenuhnya ada pada si penanggap atau penafsir (intentio lectoris) (Bachmid, dalam Husen &Hidayat,2001:80).

Sejalan dengan perdebatan itupun maka lahirlah beberapa teori interpretasi teks. Sebut saja misalnya model hermeneutik tekstual seperti yang dikemukakan oleh Friedrich Scheiermacher. Tokoh hermeneutik modern ini berusaha menciptakan sistem yang mapan untuk membongkar apa yang dimaksudkan oleh penulis teks dalam karyanya. Selanjutnya,Wilhelm Dilthey. Pengikut Scheiermacher ini berpendapat bahwa untuk sampai kepada pemahaman terhadap semua aspek dalam kehidupan manusia tidak melalui jalan ’science’ melainkan melalui interpretasi subjektif. Menurutnya, dunia manusia itu bersifat sosial dan historis dan karenanya mensyaratkan pemahaman dengan istilah atau pengertian yang dipakai oleh manusia sebagai pelaku dalam kehidupan dan karyanya. Lain lagi misalnya dengan Paul Ricoeur. Dialah filsuf yang menggabungkan antara hermeneutik dan fenomenologi. Menurutnya, teks memiliki kemampuan untuk menyapa pembacanya. Oleh karenanya, tugas seorang penafsir adalah menangkap apa yang dikatakan teks itu pada kita. Berikutnya kita mengenal Stanley Fish. Menurutnya, makna itu terletak pada sisi pembaca dengan mekanisme yang kemudian dikenal sebagai teori respon pembaca.Teks menstimulasi pembaca aktif, namun dalam diri pembaca tersebut sudah terkandung makna; penafsiran lalu tidak bergantung pada teksnya. Dalam penafsiran, individu si  pembaca itu tidaklah terlepas dari konteks komunitasnya. Menurut Fish pembaca adalah bagian dari sebuah komunitas penafsir,  suatu kelompok yang saling berinteraksi satu dengan lainnya yang kemudian  mengkonstruksikan  realitas serta makna-makna bersama dan menjadikannya dasar di dalam pembacaan mereka.Dalam model penafsiran seperti ini maka tidak ada makna objektif tunggal dalam sebuah teks.Juga tidak ada yang disebut penafsiran yang benar.Segala sesuatu bergantung pada si pembaca. Teori respon pembaca inilah yang kemudian sangat berpengaruh dalam studi media(Littlejohn,2001:187-190)

Sebagaimana halnya dalam sejarah studi kritik seni, gejala terjadinya dominasi teori interpretasi yang menekankan pada salah satu aspek teks atau karya rupanya juga tidak terelakkan terjadi dalam studi-studi interpretasi di kemudian hari. Kendati demikian, belakangan muncul pemahaman yang mencoba melihat teks sebagai sebuah bagian tak terpisahkan dari pencipta maupun penanggapnya, sehingga rupa-rupanya kecenderungan untuk melakukan studi terhadap teks juga mengarah pada model holistik. Ini terjadi misalnya pada model studi Literary Critisim dan cultural studies yang berkembang dari perspektif humanistik. Pendekatan ini karakteristiknya tidaklah seformal pada gaya ’social science’ yang serba statistik namun lebih berorientasi pada pencarian makna–makna kontekstual. Perspektif ini berfokus baik pada  text/discourse, recipient maupun context (Jensen& Rosengen,1995 :173-183).

Selanjutnya beberapa kajian mengenai muatan atau representasi kultural dalam sebuah teks atau media juga jatuh pada implikasi teoris dan metodologis yang mensyaratkan perlunya studi yang semata tidak menekankan aspek objektif teks. Alasannya, mengkaji media –misalnya– ketika melihat pada makna kultural tertentu yang terepresentasikan dalam suatu media tidak akan lengkap bila tidak meletakkan persoalan representasi tersebut dalam konteks sosio kultural di mana media itu berada. Dengan kata lain, kajian tentang representasi yang hanya mengandalkan pada aspek tekstual semata tidak akan menghasilkan simpulan yang mendalam. Itulah sebabnya kemudian dipandang perlu untuk melakukan studi teks media (televisi misalnya) yang didekati secara sekaligus dari aspek tekstualnya (mikro), dan aspek pemroduksi teks (super-text) dan tanggapan atau persepsi khalayak /audiensnya (Branston & Stafford, 1996:78).

Memperhatikan perlunya pendekatan yang bersifat holistik dalam mengkaji teks ini maka seperti diisyaratkan dalam pertanyaan awal diskusi ini penerapan studi kritik seni holistik memperoleh relevansinya. Model kritik seni holistik pada intinya mencoba menempatkan ketiga unsur yang melekat dalam sebuah teks/media sebagai bagian yang tak terpisahkan dan saling menyumbangkan informasi yang berharga sehingga memungkinkan si peneliti nantinya sampai pada sebuah simpulan tentang makna sebuah teks yang utuh, tepat dan mendalam. Hal yang demikian jugalah yang dipersyaratkan dalam sebuah kajian kualitatif yang pada dasarnya hendak menjawab persoalan ’mengapa’ dan ’bagaimana’- nya sesuatu objek studi( Sutopo, 2002:38-39).

*

Struktur kritik seni holistik terbagi menjadi empat bagian meliputi (Sutopo, 1995:14): (1) kerangka kerja kritik, (2) sumber nilai kritik, (3) alasan kritik, dan (4) penampilan kritik. Pada kerangka kerja kritik terdapat tiga lingkaran  yang menunjukkan bahwa tiga kelompok aliran kritik yang sudah dilebur dalam kerangka kerja holistik yang digambarkan dengan lingkaran besar, dengan anak panah yang mengarah pada ketiga sumber nilai kritik, yang di dalam penelitian merupakan kelopok informasi. Tiga sumber nilai wajib dikaji secara lengkap dan seimbang agar tidak terjadi ketimpangan  evaluasi. Kerangka kerja holistik ini nantinya juga merupakan salah satu karakteristik yang sangat mendasar bagi penitian kualitatif (Sutopo, 1988). Untuk lebih jelasnya kita lihat gambar 1 berikut ini:

Gambar 1 Struktur Seni Holistik (Sumber: Sutopo 1995: 15)

Struktur seni kritik holistik yang diterapkan pada aktivitas penelitian, maka karya seni bisa digantikan dengan sasaran penelitian, atau program yang dievaluasi. Kondisi setiap permasalahan yang dikaji (karya,peristiwa,program,lembaga atau perilaku) merupakan faktor objektifnya. Dengan demikian sasaran kajian wajib diarahkan juga pada faktor genetik (latar belakangnya) dan faktor afektif (dampaknya atau hasil/capaian kalau berkaitan dengan program). Ketiga faktor tersebut bisa disebut juga sebagai faktor dalam penelitian yang merupakan kumpulan dari beberapa variabel. Bila permasalahan penelitian cukup sempit dan terbatas, maka faktor tersebut bisa menjadi variabel utamanya (Sutopo, 1995:18).

Dalam pengumpulan informasi baik genetik, objektif maupun afektif sumber datanya tidak berbeda dengan penelitian kualitatif pada umumnya, yaitu bisa meliputi informan, benda atau peristiwa perilaku subjek yang diteliti, dan lokasi, dan juga arsip serta dokumen yang bisa berupa artikel yang bergayutan dengan masalah yang sedang diteliti. Dengan demikian teknik pengumpulan datanya pun tidak berbeda, antara lain meliputi wawancara mendalam, observasi berperan, focus group discussion, dan juga mencatat dokumen atau content analysis. ( Sutopo, 1995:19)

*

Pendekatan kritik seni holistik sebagaimana diuraikan serba singkat di depan kiranya memberikan gambaran bahwa pola pikir yang dipakai memiliki kesamaan dengan pola pikir dalam penelitian kualitatif, maka pelaksanaan penelitian dengan penerapan studi kritik seni holistik pun juga tidak jauh berbeda. Khusus bila hendak dipakai dalam kajian komunikasi kualitatif misalnya pada studi teks media atau program, maka yang perlu diperhatikan adalah pada pemilihan sasaran penelitiannya apakah memang memungkinkan bila diterapkan dengan pendekatan ini.  Misalnya apakah memang sumber informasi genetiknya yang berkaitan dengan teks atau sasaran tersebut memungkinkan untuk digali.

Bagaiamana pun studi kritik seni holistik ini hanyalah salah satu alternatif dalam upaya  mengkaji fenomena komunikasi supaya bisa didapatkan makna atau simpulan yang menyeluruh dan mendalam, di luar model ini masih banyak pendekatan lain yang bernafaskan fenomenologi dan tafsir hermeneutik di mana simpulan atau hasil yang diperoleh memang tidak pernah bersifat final.

 

Daftar Pustaka

Bachmid,Talha. ”Masalah Interpretasi : Cuplikan Gagasan Umberto Eco dari Karyanya Les Limites De L’inpertretaion.”  Dalam Husen, Ida Sundari &Rahayu Hidayat. Meretas Ranah Semiotika. Bentang : Yogyakarta:2001

Bergner,J. The Origins of Formalism in social Science. Chicago: University Of Chicago Press. 1981.

Branston,Gill dan Roy Stafford, The Media Student’s Book, London:Routledge,1996.

Jensen, Klaus Bruhn and Karl Rosengen. “Five Tradition in Search of The Audience” dalam Boyd-Barrett, Oliver dan Chris Newbold, Approach to Media Studies A Reader. London: Arnold, 1995. Hal. 174-183.

Littlejohn, Stephen W, Theories of Human Communication.(7ed.)USA: Wadworth, 2002.

Smith,J.K. “The Problem of Criteria for Judging Interpretive Inquiry”. Dalam Educational Evaluation and Polecy Analysis. 1984.

Sutopo,H.B. Kritik Seni Holistik sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif (Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Budaya pad Jurusan Senirupa, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret. Surakarta : Sebelas Maret University Press, 1995.

Sutopo, H.B. Metodologi Penelitian Kualitatif :Dasar Teoritis dan Praktis. Surakarta: Pusat Penelitian Universitas Sebelas Maret,1988.

Sutopo, H.B. Metodologi Penelitian Kualitatif Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Surakarta: Sebelas Maret University,2002

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 9 Agustus 2011.

2 Tanggapan to “Studi Kritik Seni Holistik Sebagai Alternatif Model Penelitian Komunikasi Kualitatif”

  1. hatur nuhun. Tulisannya ringkas tapi sangat membantu sebagai panduan awal memahami metode holistik. Izinkan mengutip….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: