A CULTURAL APPROACH TO COMMUNICATION (Review terhadap tulisan Carey.James W. dalam Dennis McQuail.(ed). McQuail’s Reader in Mass Communication Theory. London: Sage Publication, 2002, hal: 36-58)

Adalah John Dewey, filsuf dan teoritisi sosial yang dua pernyataan tentang komunikasi dan masyarakat akan melandasi kajian kita tentang konsepsi dan pendekatan dalam komunikasi bagian pertama ini. Statemen itu sebagai berikut : “Of all things communication is the most wonderfull “. Dan,“  Society exists not only by transmission, by commnunication, but it may fairly be said to exist in transmission , in communication” (Carey,2002:37)

Adakah yang istimewa dari pernyataan tersebut? Sebenarnya tidak ada! Bahkan akan terdengar biasa, atau mungkin juga terasa tidak sepenuhynya tepat, bila kita menyimak dan menterjemahkannya dengan kaca mata konseptual masa kini. Segala yang menyangkut komunikasi, lebih-lebih yang bersifat intertaintment, memang kadang-kadang terasa mengasyikkan, memabukkan malah. Tapi bukankah seringkali juga komunikasi, utamanya yang bersifat informatif, setidaknya yang tersajikan lewat isi media pemberitaan, justru membuat hidup tidak menyenangkan?Justru membuat kita kesal dan kalau semakin parah justru membuat kita melihat dunia serba kelabu belaka!

Juga, adakah yang terlalu istimewa jika kemudian di kesempatan lain Dewey mengalirkan aksioma bahwa masyarakat hadir terbentuk bukan saja lewat proses transmisi (pesan), lewat komunikasi namun lebih tepatnya: masyarakat ada dalam proses transmisi dan ada dalam komunikasi itu sendiri?

Ya, tafsiran literal terhadap pernyataan Dewey di atas memang tidak akan membawa makna apa-apa. Tapi betulkah hanya sesederhana itu ? Tidak juga. Dewey mengungkapkan itu dalam konteks waktu yang sangat berbeda dengan masa sekarang. Juga dalam semangat percaturan wacana yang berbeda dengan kultur kita sekarang.

Di Amerika Serikat, di abad 19, tatkala wacana komunikasi mulai merambah dalam dunia akademik itulah pemikiran Dewey di atas mengemuka. Karyanya, tepat bersumber dari sebuah percaturan teoritis kontradiktif. Dalam upaya menyimak perkembangan teoritis komunikasi pada awal perkembangannya itulah, dan dalam kacamata Dewey yang tak luput dari ketidaksempurnaan itulah kiranya tulisan ini beranjak.

Setidaknya, terdapat dua konsepsi yang berbeda tentang komunikasi yang berkembang di Amerika sejak abad 19. Kedua konsepsi itu berasal dari buah pemikiran kultural sekuler dan dari pemikiran keagamaan. Baiklah kita menyederhanakan kedua konsepsi itu sebagai  pandangan transmisi tentang komunikasi dan pandangan ritual tentang komunikasi.

Pandangan transmisional tentang komunikasi umumnya dilekati perbendaharaan kata-kata imparting (pemberian,penananaman), pengiriman, transmisi, atau memberi informasi pada yang lain. Pandangan ini juga merupakan metafora bagi dunia geologi atau transportasi. Konsepsi ini juga amat dikenal di kalangan budaya industrial.Sederhananya, konsepsi komunikasi dalam pandangan ini diterjemahkan sebagai transmisi pesan-pesan atau signal-signal melalui suatu jarak tertentu untuk suatu tujuan kontrol terhadap manusia lain, dan kontrol terhadap penguasaan ruang/jarak.

Secara etiomologis, konsep transmisional komunikasi ini dekat dengan wacana eksplorasi dan penemuan. Sekilas bayangan kita ketika bicara mengenai transmisi memang begitu mudah terkait pada dunia perdagangan atau politik.Dengan kata lain, motivasi ekonomi dan politiklah yang lalu melahirkan wacana tentang perpindahan pesan atau signal ke pihak lain yang diikuti dengan upaya mengendalikan pihak lain itu demi kepentingan si pengirim.

Akan tetapi, ada pemikiran lain dalam konteks kultur Amerika jaman itu bahwa motivasi transmisi /perpindahan sesungguhnya bernuansa religius. Sejarah mencatat, perpindahan penduduk kulit putih dilatarbelakngi motif melarikan diri dari batas-batas Eropa, untuk menciptakan “Hidup Baru “, untuk menemukan komunitas baru. Transportasi, khususnya yang dilakukan oleh penduduk Kristen Eropa ketika memasuki Amerika pada masa itu, dilihat sebagai salah satu bentuk “komunikasi” yang dilatarbelakangi oleh pemahaman keagamaan yang mereka anut. Perpindahan ini dimaksudkan untuk “meluaskan kerajaan Allah”, untuk menciptakan apa yang menjadi “perintah Allah”

Akan tetapi, tak berapa lama pemikiran metaporis di atas digeser oleh perkembangan konsepsi baru di mana ilmu pengetahuan dan pandangan sekuler mulai masuk dalam wacana pemikiran modern. Lebih jauh, teknologi komunikasi menjadi ikon pemikiran pada waktu itu, utamanya ketika penemuan telegrap dipandang sebagai alat yang tidak saja mampu memindahkan pesan melainkan lebih dari itu mampu memindahkan “pikiran”.Komunikasi lalu dipahami sebagai proses dan sebagai suatu teknologi yang dapat, kadang untuk tujuan religius, menyebarkan, memindahkan,dan menyuntikkan pengetahuan, gagasan,pengetahuan secara lebih luas dan lebih cepat dengan tujuan untuk mengendalikan jarak sekaligus manusia.

Meskipun tidak menutup kemungkinan adanya pemikiran lain atau konsepsi lain yang secara spekulatif mencoba menjelaskan latar belakang lahirnya konsepsi komunikasi transmisional, akan tetapi yang hampir tak terbantahkan adalah bahwa konsepsi inilah yang  sejak masa itu mendominasi pemikiran dalam wacana ilmu dan budaya.

Di sisi lain, terdapatlah konsepsi komunikasi yang berbeda yang kita sebut pandangan ritual komunikasi. Meski tak begitu populer akan tetapi konsepsi komunikasi ritual sebenarnya telah ada jauh sebelum transmisional. Dalam konsepsi ritual, komunikasi lekat dengan kata “sharing” (saling berbagi), partisipasi, asosiasi,pengikut,dan kepemilikan akan keyakinan bersama. Definisi seperti ini rupanya buah eksploitasi ide tradisional tentang identitas dan akar kebersamaan ke dalam konsep “commonnes”, lalu “communion” dan kemudian “community” akhirnya “communication”.Pandangan ritual terhadap komunikasi tidak lagi ditujukan langsung pada penyebarluasan pesan melalui suatu ruang tertentu melainkan sebagai bentuk pemeliharaan masyarakat dalam suatu waktu.; bukan suatu tindakan menanamkan informasi melainkan bentuk penghadiran suatu keyakinan bersama.

Bila model komunikasi transmisional adalah sebagai penyebarluasan pesan melewati wilayah geografi tertentu untuk tujuan kontrol, maka komunikasi dalam konsepsi ritual dilihat sebagai bentuk seremoni yang menarik orang untuk bersama-sama menjadi pengikut dan menjadi bagian sebuah komunitas tertentu.

Konsepsi komunikasi ritual ini nampaknya juga diwarnai oleh gagasan dari tradisi keagamaan tertentu yang dalam prakteknya menekankan pentingnya sebuah seremonial, peran seorang pemuka dalam ritual atau pendoa.Para pendukung konsepsi ritual acapkali juga merujuk pada tulisan Durkheim “Elementary Forms of Religious Life” dan mendasarkan diri pada argumen bahwa masyarakat digantikan oleh dunia yang nampak pada kita yakni dunia yang berbeda yang merupakan proyeksi dari dunia ideal bentukan sebuah komunitas tertentu.Proyeksi atas dunia ideal dan rupa-rupa bentuknya—semacam tarian, permainan, arsitektur, kisah-kisah baru, gaya bicara—menciptakan  sebuah pemikiran artifisial dalam tataran simbolik yang fungsinya bukan untuk menyajikan informasi melainkan menguatkan/mengkonfirmasi; bukan dengan menggantikan sikap-sikap atau mengubah pikiran melainkan menghadirkan suatu dasar/landasan pemikiran tertentu; bukan untuk membentuk  fungsi-fungsi  melainkan untuk menetapkan suatu proses sosial yang rapuh secara terus menerus.

Konsepsi komunikasi ritual pada kenyataannya tidaklah populer di kalangan ilmuan Amerika.Ini disebabkan konsepsi budaya tidak begitu mendapat perhatian bagi ilmuan Amerika. Kebudayaan dianggap sebagai sesuatu yang secara antropologis berbeda dan otomatis dilihat secara kategorial semata. Berbeda dengan ilmuan Eropa yang lebih menekankan pentingnya kebudayaan dan ritual komunikasi.

Bagaimana sebuah konsepsi komunikasi yang bertolak belakang yakni antara transmisional dan ritual membawa implikasi yang berbeda dapat dilihat dari ilustrasi tentang peran sebuah surat kabar dalam masyarakat. Jika kita melihat peranan surat kabar dalam kacamata transmisional maka kita akan melihat media surat kabar sebagai saluran yang menyuntikkan informasi dan pengetahuan, kadang isinya bersifat membelokkan/menyesatkan, menyebar pada jarak yang luas. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah  efek yang ditimbulkan media terhadap audience:apakah media menjadi pencerah atau justru menghadirkan realitas semu? Mengubah atau menguatkan sikap yang sudah ada? Melahirkan kepercayaan atau malah memunculkan keraguan?Pertanyaan juga muncul dalam hal isi medianya: apakah isi media menghasilkan integrasi atau justru malah sebaliknya? Apakah berfungsi atau tidak sebagai menjaga kestabilan atau justru mendorong ketidakstabilan terhadap kepribadian?

Pandangan ritual komunikasi sebaliknya akan memfokuskan persoalan yang berbeda.Misalnya, surat kabar tidak dilihat sebagai pengirim atau penggali informasi tetapi lebih sebagai media  yang menyajikan kepada masyarakat  suatu situasi di dalam mana sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru yang dipelajari melainkan potret realitas dengan cara pandang yang baru.Membaca dan menulis sebuah berita lalu menjadi sebuah tindakan ritual, bahkan suatu tindakan yang dramatis sifatnya.Pembaca surat kabar bisa digambarkan sebagai tindakan dramatik di mana ia turut bagian dalam suatu dunia yang penuh dengan kekuatan-kekuatan tertentu, meski hanya sebagai seorang pengamat.Pertanyaan yang muncul kemudian tidak lagi soal efek atau fungsi pesan melainkan bagaimana peran penghadiran dan keterlibatan di dalam membentuk kehidupan pembaca dalam suatu waktu. Memang dikenal adanya perubahan-perubahan baru meski kecil dan sifatnya internal termasuk menciptakan suatu kebiasaan dalam mengkonsumsi media.

Surat kabar lalu tidak dimaknai sebagai media yang fungsi isi pesannya mempengaruhi atau sumber efek melainkan sebagai media yang secara dramatis menyajikan kenikmatan dengan cara menyajikan suatu yang menjadi akar realitas.Dan dengan peran ini, maka teks yang dibawakan surat kabar tak ubahnya seperti sebuah tari-tarian Bali,Novel Dickens, drama Elizabeth, perjalanan studi; surat kabar  menghadirkan realitas yang memberi hidup ini segala macam bentuk, susunan dan nada.

Sebuah “berita” kemudian juga menjadi realitas historis. Ia menjadi suatu bentuk kebudayaan yang ditanamkan oleh sekelompok kelas tertentu dalam sebuah titik historis tertentu.Dan sebagaimana bentuk budaya yang ditanamkan,berita merefleksikan suatu “kehausan akan pengalaman” — hasrat untuk melakukan sesuatu secara epic, heroik,dan citarasa tradisional akan keunikan, keaslian,suatu kebaruan berkaitan dengan beritanya.

Di bawah panji komunikasi ritual, berita lalu bukan lagi sebuah informasi melainkan sebuah drama; ia tidak lagi menggambarkan dunia tetapi potret sebuah drama di mana di dalamnya beradu kekuatan dan action, ia hadir  dalam sebuah rentang waktu sejarah, dan ia mengundang keterlibatan kita dalam bentuk persepsi yang kita timbulkan, seringkali kita seakan-akan benar-benar mengalami sendiri, suatu peran-peran sosial di mana kita berada.

Sampai di sini kita bisa mengenal apa sesungguhnya kekhasan pemikiran Dewey.Sebagaimana dikemukakan di awal tulisan ini, komunikasi adalah sesuatu yang teramat indah karena ia adalah dasar terbentuknya persahabatan umat manusia; ia menghasilkan ikatan sosial yang mengikat manusia bersama-sama dan memungkinkan terjadinya kelompok kehidupan. Masyarakat menjadi ada karena adanya kekuatan-kekuatan yang mengikat yang berasal dari sirkulasi informasi yang dimiliki bersama dalam sebuah sistem organik.Inilah yang menjadi pokok pemikiran Dewey sekaligus melandasi konsepsi komunikasi ritual.

Terciptanya masyarakat memerlukan konsensus, dan konsensus mensyaratkan adanya komunikasi. Demikian kalau kita membahasakan secara berbeda pernyataan dalam paragraf di atas. Harapan Dewey ini dalam rentang sejarah terbukti kemudian juga tak sepenuhnya benar. Satu kesalahan dia adalah anggapan yang terlalu berlebihan terhadap perkembangan dunia informasi dan teknologi komunikasi sebagai sosok yang bisa memecahkan persoalan sosial selain sebagai pengikat sosial. Meski demikian tentangan terhadap pandangan ini juga masih terbuka untuk didiskusikan dan selalu menjadi bagian integral persoalan komunikasi. Munculnya persoalan ini terkait dengan periode khusus sejarah, teknologi dan bentuk-bentuk tatanan sosial yang ada.

[……….]

 

Mengkaji komunikasi adalah melihat proses sosial aktual di dalam mana simbol-simbol signifikan  dibentuk, dipahami dan digunakan. Meski terdapat perbedaan konseptual terhadap bagaimana mengkaji komunikasi, menurut James W. Carey, melakukan studi komunikasi didasari pada tujuan untuk mengkonstruksikan, mengatur, memperbaiki dan mentransformasikan komponen tertentu dalam masyarakat berdasarkan observasi terhadap realitas-realitas publik yang bisa teramati. Pertanyaan yang lalu timbul dalam mempelajari komunikasi adalah : Ketika kita membuat ekspresi dan menyajikan pengetahuan dan sikap-sikap kita terhadap dunia melalui konstruksi atas berbagai sistem simbol : seni, ilmu pengetetahuan, religi, akal sehat, mitos; bagaimana kita melakukan semuanya itu ? Apa perbedaan di antara sistem-sistem simbol tersebut? Apa variasi yang sifatnya historis dan perbandingan di antaranya? Bagaimana kita mengubah teknologi komunikasi memengaruhi sesuatu yang sesungguhnya hendak kita pengaruhi dan bagaimana kita memahami itu? Bagaimana kelompok-kelompok sosial berjuang untuk menentukan apa sesungguhnya yang nyata dalam hidup ini?

Terakhir, satu hal ironi dalam mempelajari komunikasi adalah bagaimana ilmu komunikasi memberikan ruang bagi kajian etis bagi ilmu komunikasi itu sendiri?

[……….]

 

BEBERAPA CATATAN KRITIS

Sengaja dalam paper ini tulisan James W Carey saya paparkan agak utuh karena sulit menangkap makna sebuah sejarah perkembangan pendekatan keilmuan bila tidak merunut agak detil bagaimana sebuah pendekatan keilmuan itu bisa lahir dan bahkan menjadi semacam karya eksemplar tersendiri.

Secara garis besar ada dua hal yang dikemukakan dalam tulisan di atas, Pertama, chapter ini memperkenalkan pembaca pada catatan awal terbentuknya tradisi konsepsi komunikasi. Pada awal kemunculan wacana komunikasi dalam lapangan ilmiah komunikasi dimaknai sebagai salah satu bentuk transmisi dan kemudian  komunikasi dalam perkembangannya lalu dimaknai sebagai suatu bentuk ritual. Kedua, bahasan dalam chapter ini memberi informasi seputar karakter disiplin ilmu komunikasi yang kajiannya tak bisa dilepaskan dengan studi tentang masyarakat pada umumnya.

Akan kita bahas terlebih dahulu pokok pikiran yang pertama.Komunikasi sebagai transmisi yang pada awal pemunculannya demikian populer bahkan menjadi semacam dominant paradigm ternyata justru tidak mampu berbuat banyak bagi pemberdayaan masyarakat. Model transmisi bahkan sempat menjadi alat propaganda yang menguntungkan bagi penguasa misalnya. Model transmisi juga gagal dalam memotret realitas sosial secara holistis karena cenderung mereduksi fenomena komunikasi dalam masyarakat sebagai proses linier dan bukan sebagai bentuk interaksi simbolik. Model transmisi jugalah yang secara teoritis tidak memberi kesempatan bagi perkembangan ilmu komunikasi di kemudian hari karena bentuk-bentuk penelitiannya hanyalah upaya verifikasi teori yang sudah ada dan bukan konstruksi teori.

Komunikasi sebagai bentuk ritual. Konsep ini rupanya khas buah pemikiran Carey yang kalau tidak salah cenderung beraliran fenomenologis ketimbang behavioristis.Dalam wacana komunikasi Barat( baca:AS ) kata ini tidak populer karena memang benua Eropalah yang lebih intens dalam melihat “Culture “sebagai kajian.

Saya sendiri secara pribadi cenderung menempatkan komunikasi sebagai bentuk ritual, setidaknya karena beberapa alasan: Pertama, dunia ini rupanya memang sebuah panggung sandiwara maha agung di mana manusia hadir sebagai pelaku yang dalam batas-batas tertentu diberi “kewenangan” untuk melakoninya. Asumsi ini saya serap ketika saya secara khusus mempelajari pendekatan interaksi simbolik- Mead dkk juga konsep Dramaturgis-nya Goffman. Kedua, dengan melihat komunikasi sebagai bentuk ritual kita senantiasa mengandaikan bahwa manusia adalah makhluk yang aktif dalam memilih,memilah bahkan menilai, mengubah bahkan membongkar segala konsep ide atau gagasan yang  hilir mudik di kawasan public sphere. Manusia bukanlah robot statis yang dikendalikan semaunya oleh kekuatan dari luar betatapun besarnya terpaan Ideological State Aparatus di sekelilingnya, termasuk media misalnya. Pernyataan ini saya kira tidak jauh berbeda dengan  konsep psikologi modern yang sudah mulai mengarah ke pendekatan humanistik walau belum seperkasa Psikoanalistis atau Behavioristik. Ketiga, ini saya kira yang terpenting, dengan melihat komunikasi sebagai bentuk ritual maka lebih memungkinkan adanya upaya memberdayakan masyarakat lewat perantara media sebagai agent yang memfasilitasi peran aktif masyarakat untuk ambil bagian dalam problem solving.

Apabila kita tarik pada tataran yang lebih abstrak maka pendekatan ritual akan menjurus pada pendekatan kultural dalam komunikasi.

Bagaimana implikasi kajian komunikasi ritual, atau lebih luas pendekatan komunikasi kultural,  bila diterapkan di Indonesia? Menurut saya, perspektif ini juga lebih cocok bila dikaitkan dengan konteks Indonesia mengingat Indonesia adalah negara yang multi kultur sifatnya. Dalam wacana modern semakin sulit untuk menentukan hanya ada satu kultur dominan seragam yang paling berhak mewakili identitas Indonesia. Saya kira cita-cita rezim orde baru yang hendak mengedepankan kesatuan walau dalihnya beranjak dari konsep kebhinakaan juga sudah tidak tepat. Sekedar mengingatkan, model pendekatan komunikasi transmisi pernah menjadi alat utama propaganda penguasa lewat mekanisme kerja dan fungsi departemen penerangan, sehingga —- dengan tidak mengecilkan peran positif departemen ini pada waktu itu — ilmu komunikasi sempat menjadi ilmu yang mujarab untuk membentuk strategi politik pencitraan penguasa.Dalam bahasa yang agak ekstrim, ilmu komunikasi pada masa itu pernah menjadi ilmu manipulatif dalam penerapannya.

Kita kembali ke konteks komunikasi kultural. Keistimewaan pendekatan ini sesungguhnya ada pada keleluasaanya untuk memberi tempat pada berbagai kekuatan kultural dalam masyarakat untuk saling berbagi dalam suatu skenario perkembangan bangsa.Alih-alih hanya sekedar penyalur informasi dominan sarat ideologi penguasa yang bekerja dalam sebuah public sphere sebagaimana dalam pendekatan transmisional, dalam pendekatan ritual atau kultural, media adalah panggung besar dimana semua kekuatan kultural unsur bangsa berhak tampil. Masyarakat juga mendapat hak untuk mengespresikan budayanya, sekaligus terinspirasi oleh berbagai budaya tanpa campur tangan oleh kekuatan represif yang memaksakan dominasi kulturalnya kepada siapa pun.Rasanya, dengan semangat inilah makna perkembangan masyarakat ada di dalam komunikasi dan bukan hanya melalui komunikasi seperti dikemukakan oleh Dewey menjadi nyata.

Pokok kedua,  bila kita mengikuti pemikiran Dewey, tampak bahwa persoalan-persoalan komunikasi senantiasa terkait dengan problem masyarakat. Bagaimana aktivitas yang tampak dalam masyarakat seperti percakapan-percakapan antar orang per orang biasa, bagaimana instruksi dalam masyarakat bekerja, bagaimana orang-orang saling berdiskusi dan berdebat, bagaimana masyarakat mendapatkan hak akan informasi — itu semua adalah kualitas-kualitas dasar hidup masyarakat yang bisa terjadi dan merupakan implikasi dari penerapan model komunikasi seperti apakah yang ada dalam masyarakat. Raymond Williams (Carey,2002:44) menuturkannya dengan sangat tepat sebagai berikut: Our minds and lives are shaped by our total experience or by representations of experience! Dan pengalaman semacam itulah yang disebut komunikasi .

Saya sependapat dengan ide – ide di atas. Bukankah kita bisa melihat bentuk masyarakat itu dilihat dari model komunikasi yang bagaimana yang diterapkan. Bila model komunikasi itu gagal menjadi sarana pemersatu kekuatan kultural bangsa, bila model komunikasi itu gagal dalam menangkap kemahakayaan makna sebuah realitas, bila model itu hanya melihat teknologi dan kemajuan pendidikan semata sebagai peluang politik dan ekonomi dan bukan sebagai kesempatan untuk perluasan kekuatan manusia untuk belajar banyak dan saling berbagai pengalaman, maka niscaya model komunikasi yang semacam itu akan berpotensi memunculkan berbagai persoalan serius bangsa. Terakhir tersirat dalam pemikiran Raymond Williams bahwa model komunikasi yang sejati sesungguhnya tidak hanya melihat masyarakat semata sebagai jalinaan  kekuasaan, kekayaan dan produksi atau perdagangan melainkan juga harus bisa melihat masyarakat sebagai sebuah jaringan berbagi tentang berbagai pengalaman estetik, ide-ide religius, nilai-nilai personal dan sentimen juga ide-ide intelektual — dalam sebuah tatanan ritual.

Terakhir, inilah tesis pokok tulisan James Carey(2002:45)  bahwa kita perlu merekonstruksi  ulang konsepsi komunikasi sebagai sebuah bentul ritual/ model ritual tidak saja agar kita mampu menggapai betapa indahnya sesungguhnya kehidupan ini melainkan agar kita memiliki model komunikasi yang mampu menjadi sarana pembentuk kebudayaan masyarakat.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 8 Agustus 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: