MENGANALISIS DATA KUALITATIF

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Setumpuk data rekaman wawancara dalam file-file audio atau transkrip, beratus lembar catatan observasi lapangan dan segunung dokumen yang terserak di meja berminggu-minggu biasanya menjadi “pemandangan” menggiriskan yang kalau tidak diantisipasi akan membuat si peneliti malas memulai mengerjakannya. Biasanya ini juga diperparah dengan kelelahan dan frustasi berkepanjangan setelah berminggu bolak-balik ke lapangan mencari data, menemui orang, memasuki lembaga dan sebagainya. Padahal tahap yang semestinya harus dikerjakan ini adalah tahapan maha penting tak kalah pentingnya dengan tahapan perencanaan dan tahap penuaian data di lapangan. Yup, tahap yang harus dilakukan ini namanya  ANALISIS DATA.

Sebenarnya, dalam penelitian kualitatif tidak perlu menunggu seluruh proses pengumpulan data di lapangan selesai dilakukan. Segera setelah kita memeroleh data, sesedikit apapun data itu, ketika masih segar ingatan kita akan detil dan konteksnya maka sebaiknya langsung kita simpan dan organisasikan dengan benar, dengan sistematis. Kita bisa membuat catatan atau mendeskripsikan temuan itu, misalnya mentranskripkan rekaman wawancara sambil membuat catatan refleksi teoritis dan metodologis. Dan itu bisa dilakukan secara simultan ketika masih “berada dalam proses pencarian data lapangan”.

Mungkin bagi sebagian orang melakukan analisis data kualitatif itu sudah bukan hal yang sulit, tapi bagi peneliti pemula ( baca: mahasiswa) melakukan analisis data itu bukan pekerjaan yang sepele. Lebih celaka lagi, ada yang malah tidak tahu “bagaimana menganalisisnya” . Memang, dalam penelitian kualitiatif analisis data itu “seakan” hanya menceritakan data kita lalu mengomentari sedikit- sedikit tentu saja dengan menyinggung teori ini – teori itu dan selesai! Padahal tidak seperti itu semestinya. …..

Karakteristik Analisis Data Kualitatif

Data kualitatif  itu bentuknya teks, kata-kata tertulis, frase dan simbol-simbol yang menggambarkan atau merepresentasikan orang, tindakan dan peristiwa sosial yang ada dalam kehidupan ini. Kecuali untuk kepentingan content analysis, analisis data kualitatif jarang yang menggunakan analisis statistik. Ini tidak berarti kalau analisis data kualitatif semata hanya mengandalkan spekulasi dan impresi yang semaunya. Analisis data kualitatif bisa juga dilakukan dengan sistematis dan logika yang rigit, yang tentu nuansanya berbeda dengan gaya analisis kuantitatif yang mengandalkan statistik.  Di masa sekarang, peneliti kualitatif lebih bersifat eksplisit terbuka untuk ‘diuji’ orang lain. Analisis data kualitatif sekarang sudah semakin bersifat ekspisit dan sistematis langkah demi langkah.

Berbeda dengan analisis data kuantitatif yang sudah lebih dahulu menentukan perangkat teknik analisis yang spesifik, terstandarisasi, dengan bertumpu pada  matematika  terapan, analisis data kualitatif relatif tidak memiliki standar yang baku. Riset kualitatif bersifat induktif, peneliti kualitatif jarang yang “sudah menentukan” analisis data yang spesifik ketika mereka memulai penelitian. Mengutip  Schatznab dan Strauss ( dalam Neuman, 2000 :418),” Qualitative analysts do not often enjoy the operational advantages of their own analytic processes; consequently, they cannot refine and order their raw data by operations built initially into the design of research”.

Seperti sudah saya singgung di muka, bahwa dalam analisis data kualitatif peneliti tidak harus menunggu proses pengumpulan data itu selesai dilakukan. Analisis data kualitatif bisa dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data di lapangan. Peneliti kualitatif akan mencari pola-pola dan keterkaitan (data) dan dia bisa memulai melakukan analisis itu semenjak data itu diperoleh. Hasil dari analisis data awal ini yang akan membimbing peneliti ke pengumpulan data berikutnya.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti akan menghasilkan konsep  dan teori baru dengan memadukan bukti-bukti empirik dengan konsep-konsep abstraknya.  Alih-alih menguji hipotesis, analisis  kualitatif mencoba  menggambarkan atau menunjukkan bahwa di dalam bukti temuan lapangan itu sesuatu teori, generalisasi dan interpretasi bisa diterima akal.

Ciri yang kemudian dari analisis kualitatif dilihat dari tingkat abstraksinya. Analisis kualitatif tidak se-abstrak sebagaimana dalam analisis kuantitatif; melainkan lebih dekat ke ‘raw data’. Data dalam kualitatif  berwujud kata, yang relatif  “imprecise” , diffuse dan melekat pada konteks dan bisa mengandung lebih dari satu makna. Mengutip Collins ( dalam Neuman, 2000:419):

Words are not only more fundamental intellectually; one may also say that they are necessarily superior to mathematics in the social structure of the discipline. For words are a mode of expression with greater open-endness, more capacity for conecting various realms of argument and experience, and more capacity for reaching intelletual audiences .

Explanations and Qualitative Data

Peneliti kualitatif merumuskan  sebuah penjelasan (explanations) atau generalisasi yang lebih dekat ke data konkret dan konteksnya, namun dengan cara yang lebih dari sekedar deskripsi sederhana. Peneliti biasanya menggunakan (bahasa) “level yang lebih rendah “, tidak se-abstrak sebagaimana sebuah ‘teori’ dan  didasarkan pada detail yang konkret. Peneliti bisa memunculkan sebuah “new theory” yang menyajikan gambaran realistik mengenai kehidupan sosial dan mendorong pemahaman lebih dari sekedar pengujian hipotesis yang kausalistis. Penjelasan itu cenderung dalam penjabaran detail yang mendalam, sensitif dengan konteksnya dan memungkinkan menunjukkan proses yang kompleks atau penggalan-penggalan kehidupan sosial. Penjelasan semacam ini bisa saja bersifat kausal, namun bukan ini yang menjadi inti persoalan. Tujuan peneliti adalah mengorganisasikan sejumlah besar detil spesifik ke dalam gambaran utuh, model atau seperangkat konsep yang saling terkait.

Proses Analisis

Sering terdapat kelemahan dalam penelitian karena tidak selalu disadari hubungan antara analisis data, pengumpulan data dan desain penelitian. Perlu diperhatikan bahwa data dicari untuk mendukung atau menguji suatu tafsiran atau mentest “hipotesis yang timbul dalam pikiran peneliti”. Kekurangan itu antara lain disebabkan oleh karena peneliti hanya sekedar mengumpulkan data yang menggambarkan apa adanya tanpa mengaitkannya dengan tujuan mencapai suatu teori.

Jalan dari data deskripsi sampai teori cukup panjang,harus melalui beberapa langkah serta meminta pikiran yang banyak, antara lain menemukan dan merumuskan konsep, mengembangkan tipologi, memperhatikan konteks, melakukan validasi dan sebagainya sampai akhirnya mengembangkan dan “menguji teori”. Untuk itu diperlukan kreativitas, imajinasi dengan menggunakan analogi dan metafor.

Menurut Hammersley dan Atkinson(dalam Nasution 1988: 139) proses analisis melalui langkah-lanhkah sebagai berikut :

  1. Pertama, membaca dan memelajari data yang terkumpul sampai dikuasai sepenuhnya sambil memikirkannya untuk mencari apakah ada pola-pola yang menarik atau menonjol atau justru membingungkan. Selidikilah apakah terdapat hubungan antara data, adakah persamaan atau justru pertentangan atau kontradiksi dalam pandangan berbagai informan. Sambil membaca, peneliti senantiaa mengajukan pertanyaan kepada data, tak ubahnya seperti mengajukan pertanyaan kepada informan. Kedua, berbagai konsep akan timbul dengan sendirinya bila diperhatikan istilah-istilah yang digunakan oleh informan. Selidiki makna istilah itu lebih lanjut. Ketiga, mungkin juga peneliti dapat memanfaatkan istilah sehari-hari dengan pengertian khusus yang dapat mencakup atau merangkum sejumlah data. Peneliti dapat juga menggunakan istilah formal yang terdapat dalam disiplin ilmu terentu untuk mengklasifikasikan berbagai data. Ada kemungkinan istilah itu masih perlu diadaptasi pada situasi khusus yang dihadapi. Atau peneliti harus menciptkan istilah baru untuk menangkap karakteristik kategori data tertentu. Dengan demikian peneliti dapat melihat adanya pola dalam data yang diberinya nama atau istilah tertentu.
  2. Tugas berikut ialah mencari hubungan antara konsep-konsep dalam usaha untuk mengembangkan suatu teori. Salah satu cara ialah “ the constant comparative method” yaitu mengidentifikasi suatu fokus, misalnya “omongan orang”. Misalnya, peneliti memelajari bagaimana omongan ini terjadi antara  guru dalam berbagai lokasi dan kondisi, siapa bicara tentang siapa kepada siapa tentang apa dengan cara yang bagaimana. Dengan mendeskripsikan, menganalisis, dan membandingkannya peneliti dapat menemukan berbagai jenis “omongan orang” dan dapat mengembangkan suatu teori. Langkah-langkah “constant comparative method” ini menurut  Glaser ( Bogdan : 68-70) ialah : Pertama, mulailah dengan mengumpulkan data. Kedua, temukan issue, peristiwa atau kegiatan yang berulang-ulang terjadi  yang dijadikan kategori. Ketiga, kumpulkan data yang memberikan banyak contoh-contoh kategori yang dijadikan fokus itu untuk mengetahui berbagai ragam dimensi kategori itu. Keempat, uraikan secara tertulis mengenai kategori yang anda selidiki untuk mendeskripsikan dan memahami semua aspek yang terdapat dalam data sambil terus mencari hal-hal baru. Kelima. Olah data dan model yang tampil untuk menemukan proses dan hubungan sosial pokok. Keenam, lakukan sampling, pengkodean dan uraian tertulis dengan memusatkan analisis pada kategori inti.

Dalam “constant comparative method” kita membandingkan suatu konsep atau kategori data tertentu dengan konsep atau kategori data lainnya. Untuk melakukannya secara lebih sistematis sedapat mungkin kita mencoba “memetakan” berbagai kategori itu dalam suatu bagan. Dengan demikian model yang tampil akan lebih mantap, namun masih harus terus menerus diuji berdasarkan data baru. Teori yang dibentuk senantiasa diperluas, disempurnakan, ada kalanya harus diubah agar lebih sesuai. Makin banyak lokasi diselidiki makin mantap teori itu, namun pada suatu saat tidak ada lagi yang dapat diungkapkan situasi baru sehingga tibalah saat kejenuhan atau “ point of theoritical saturation”.

Pada taraf permulaan, peneliti tidak perlu membatasi diri pada satu teori. Bahkan lebih baik bila ia membuka diri bagi berbagaikemungkinan perspektif dan hipotesis. Ia harus menggunakan berbagai teori yang dapat dimanfaatkan untuk meemahami data. Akan ternyata bahwa tidak semua data dapat dijelaskan menurut satu teori tertentu. Teori dalam proses penelitian bukan untuk menjelaskan semua data akan tetapi untuk memfokuskan analisis penelitian yang mendorong untuk melakukan penelitian selanjutnya.

Tujuan penelitian naturalistik sebenarnya ialah untuk menghasilkan model yang dapat menunjukkan kausalitas. Akan tetapi membuktikan validitas kausalitas dalam penelitian naturalistik sangat sukar karena tidak dapat menggunakan eksperimen seperti halnya dalam penelitian kuantitatif. Namun dapat  diikuti langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Denzin(dalam Nasution 1988: 140)  yang bersifat induktsi analitis guna mentest teori :

  1. Memberi definisi yang masih kasar mengenai gejala yang diselidiki.
  2. Merumuskan penjelasan hipotesis mengenai gejala ini.
  3. Mengadakan penelitian suatu kasus dengan tujuan untuk melihat apakah hipotesis itu sesuai.
  4. Jika hipotesis itu tidak sesuai dengan fakta, maka perlu dirumuskan kembali hipotesis atau gejala /masalahnya.
  5. Kepastian yang lebih besar akan diperoleh bila telah diselidiki sejumlah kasus lain, akan tetapi bila ditemui kasus negatif, maka harus dirumuskan kembali  hipotesis atau masalahnya.
  6. Prosedur penelitian kasus, perumusan kembali hipotesis, demikian pula gejala atau masalah dapat dilanjutkan sampai tercapai hubungan yang universal, setelah tiap kasus negatif yang mengharuskan  perumusan kembali telah dapat tercakup.

 

Sulit ditentukan berapa banyak kasus yang harus diteliti sampai memadai jumlahnya untuk mencapai kesimpulan yang universal. Tak dapat diketahui apakah masih ada kasus negatif yang masih merupakan kekecualian yang belum diliput. Adanya kasus-kasus demikian merupakan dorongan untuk senantiasa memperhalus dan menyempurnakan teori yang diperoleh. Penelitian kualotatif tak kunjung berakhir.

Ada beberapa macam teori yang dapat ditemukan atau dibentuk, yakni yang bersifat makro dan  mikro. Teori makro adalah teori yang berlaku bagi sistem sosial dalam skala besar, misalnya mengenai struktur sosial secara nasional. Sebaliknya teori “mikro” berlaku bagi organisasi sosial lokal yang terbatas, misalnya kelas, keluarga suatu lembaga pendidikan, pabrik dan sebagainya.

Teori dapat pula bersifat substantif dan formal. Yang substantif mengenai hal-hal yang konkret, misalnya mengenai guru sekolah, perawat di rumah sakit, dan sebagainya, sedangkan yang formal menenai konsep atau kategori seperti disiplin, keadilan, kenakalan, tanggung jawab dan sebagainya. Kedua golongan itu dapat dikombinasi, misalnya makro-substantif, mikro-formal, dan sebagainya.

Referensi :

Neuman, W Lawrence. 2000. Social Research Methods Qualitative and Quantitative Approaches. 4th.ed. Boston : Allyn and Baccon.

Bogdan, Robert C.,Biklen, Sari Knopp. 1982. Qualitative Research for Education , An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon.

 

 

About these ads

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 4 Desember 2013.

5 Tanggapan to “MENGANALISIS DATA KUALITATIF”

  1. terima kasih sharingnya di blog ini…hal yg selalu berputar di kepala…tepatkah metode kualitatif ini…

    secara metode ini terlihat mudah tp ternyata peneliti akan menemukan kesulitan untuk menemukan standarisasi yg tepat untuk menilai keabsahan teorinya…..
    saya belum menentukan pilhan akan menggunakan metode apa utk penelitian saya..semakin banyak saya membacca..kesimpulan saya terarah pd standarisasi keabsahan teorinya…..

    sekali lagi terima kasih atas sharingnya…..

  2. Reblogged this on mywordsmyworst and commented:
    Apa itu Analisis Data?

    • Analisis Data sebetulnya bahasa baku untuk membahasakan data sehingga secara teoritis bisa terklarifikasikan apakah memang masih mendukung proposisi teori yang dijadukan acuan ( positivis). Kalau untuk pemahaman kualitatif (fenomenologis), analisis data berarti mencoba mengkonstruksi data kasar, melihat keterkaitan antarunsur, hubungan logis, eksplanasi terhadap fenonema, dst sehingga ujungnya adalah sebuah konstruksi teori, karena dalam kajian kualitatif sesungguhnya hasil akhirnya adalah sebuah teori. demikian kira-kira yang bisa saya jawab….

  3. TERIMAKASIH, SANGAT MEMBANTU. BERBOBOT….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 108 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: