ASUMSI – ASUMSI EPISTEMOLOGI, ONTOLOGI DAN METODOLOGI DALAM PARADIGMA

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Oleh karena metodologi penelitian merupakan implikasi tertentu dari suatu paradigma dan karena dalam bidang ilmu-ilmu sosial terdapat sejumlah paradigma, maka metodologi penelitian dalam ilmu-ilmu sosial tidaklah satu. Masing-masing metodologi penelitian, selain didasarkan atas paradigma atau perspektif teoritik serta epistemologi yang berbeda, mereka pun berangkat dari pilihan metodologi dan metode-metode penelitian yang berbeda pula.

Keterkaitan antara paadigma dengan metodologi dan metode penelitian tersebut bisa disimpulkan melalui apa yang digambarkan oleh Crotty ( 1998), yang antara lain bisa dijelaskan melalui bantuan tabel 2 berikut ini :

Tabel 2 Epistemologi-Perspektif Teoritikal – Metodologi- Metode ( Crotty, 1998:5)

EPISTEMOLOOGI THEORITICAL PERSPECTIVE METHODOLOGI METHODS
  1. Objektivism
Positivism ( and Post-positivism) Experimental research Survai Research Measurement, scallingSamplingQuestionaire
  1. Constructivism
Interpretivism :

  • Symbolic Interactionism
  • Phenomenology
  • Hermeneutics
  • Ethnography
  • Phenomenological research
  • Grounded theory
  • Heuristic inquiry
  • Observation
  • Participant Observation
  • Interview
  • Focus Group
  • Case study
  • Life History
  1. Subjectivism ( and their variants)
Critical Inquiry
  • Action research
  • Discourse Analysis
 

  • Document Analysis
  • Interpretative Methods
  • Content Analysis
  • Comparative Analysis

Dari Tabel 2 di atas, secara tidak langsung Crotty telah mengidentifikasi 3 paradigma, yang kurang lebih identik dengan pengelompokkan paradigma dalam Tabel 1 ( lihat artikel sebelumnya). Paradigma 1 dalam Tabel 2 di atas kurang lebih adalah paradigma Klasik sebagaimana dikemukakan dalam Tabel 1; sedangkan paradigma 2 adalah paradigma Konstruktivisme dan paradigma 3 adalah paradigma Teori-Teori Kritis. Masing-masing paradigma didasarkan atas epistemologi dan perspektif teoritikal tersendiri, selain itu masing-masing epistemologi dan perspektif teoritikal juga membawa implikasi metodologi tertentu yang harus diterapkan; dan akhirnya setiap metodologi memiliki preferensi atau kecenderungan untuk menerapkan metode-metode tertentu bisa dilihat sebagai satu paradigma.

Sebagai contoh, perspektif teoritikal symbolic interactionism, didasarkan atas epistemologi yang disebut sebagai constructivism. Epistemologi itu sendiri bisa didefinisikan sebagai ….. the theory of knowledge embedded in the symbolic perspective and thereby in the methodology ( Crotty, 1998:3). Perspektif teoritikal symbolic interactionism yang didasarkan atas epistemologi yang disebut constructivism juga tidak terlepas dari penerapan metodologi tertentu sebagai implikasi, antara lain penerapan metodologi ethnography. Metodologi ethnography memiliki kecenderungan atau preferensi metode-metode tertentu pula yang dinilai tepat untuk diterapkan seperti metode pengumpulan data participant observation.

Tiap paradigma —sebagai suatu mental window atau world view yang dipergunakan oleh suatu komunitas ilmuwan tertentu untuk memelajari obyek keilmuan mereka— satu sama lain mungkin bertolak belakang dan sulit dipertemukan. Bila Denzin dan Lincoln menilai “ A paradigm encompasses three elements : epistmology, ontology, and methodology” (Denzin dan Lincoln, 1994: 99), maka perbedaan antara paradigma bisa meliputi perbedaan yang mendasar dari segi ontologi, epistemologi, dan metodologi. Perbedaan yang paradigmatik antara peneliti— atau perberdaan yang mancakup dimensi epistemologi, ontologi, dan metodologi — akan menyebabkan keduanya tidak bisa dipertemukan.

Tabel 3 ELEMEN-ELEMEN PARADIGMA ( Guba, 1999)

ONTOLOGY EPISTEMOLOGY METHODOLOGY
Asumsi tentang “realitas” Asumsi tentang hubungan antara peneliti dengan yang diteliti Asumsi metodologis tentang bagaimana peneliti memeroleh pengetahuan
What is the nature of “reality” What is the nature of the relationship between the inquirer and the knowable? How should the inquirer go about finding out knowledge?

Empat paradigma yang dikemukakan Burrel dan Morgan ( dalam Rosengreen, 1979, lihat Tabel 1 tulisan terdahulu), sebagai contoh, sebenanrnya berangkat dari pengutuban teori-teori sosial dalamsebuah kontinum antara konsepsi yang menekankan subyektivitas di kutub yang satu dengan obyektivitas di kutub yang lain. Dalam kontinum obyektif – subyektif tersebut, sekurangnya terdapat pengutuban yang menyangkut 4 asumsi mengenai ilmu-ilmu sosial.

Pertama, dari segi ontologi, pengutuban antara realisme –nominalisme; dari segi epistemologi, pengutuban antara positivism— anti-positivism; dari segi metodologi, antara nomothetic – ideographic; kemudian dari segi asumsi tentang manusia, kutub objektivis berangkat dari asumsi yang deterministik, sedangkan kutub subjektivis berpijak pada asumsi voluntaristik ( Rosengreen, 1979:186-187).

Di luar dimensi-dimensi epistemologi, ontologi dan metodologi, sejumlah  pakar lain secara implisit ataupun eksplisit menilai sebuah paradigma juga memuat elemen axiology ( Lihat Littlejohn, 1992: 30-34) yang berkaitan dengan sosial value judgment, etika atau pilihan moral sang peneliti dalam melakukan penelitian.

Oleh karena itu, perbedaan antarparadigma tersebut juga bisa didasarkan atas 4 ( empat) dimensi yaitu :

  1. Epistemologis, yang antara lain menyangkut asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan yang diteliti dalam proses untuk memeroleh pengetahuan mengenai obyek uang diteliti. Kesemuanya menyangkut teori pengetahuan ( theory og knowledge) yang melekat dalam perspektif teori dan metodologi.
  2. Ontologis, yang berkaitan dengan asumsi mengenai obyek atau realitas sosial yang diteliti.
  3. Metodologi, yang berisi asumsi-asumsi mengenai bagaimana cara memeroleh pengetahuan mengenai suatu obyek pengetahuan.
  4. Aksiologis, yang berkaitan dengan posisi value judgment, etika, dan pilihan moral peneliti dalam suatu penelitian.

Tebel 4 a- 4d berikut  ini merupakan identifikasi perbedaan antara paradigma klasik, kritis, konstruktivis berdasarkan 4 elemen yang dimiliki masing-masing paradigma ( epistemologi, ontologi, metodologi dan aksiologi),yang merupakan rangkuman atau penyimpulan dari sejumlah kepustakaan ( a.l. Guba, 1994; Denzin dan Lincoln, 1994;Crotty, 1998).

Tabel 4a PERBEDAAN ONTOLOGIS

KLASIK KONSTRUKTIVIS KRITIS
Critical realism:

  • Ada realitas yang “real” yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universival, walapaun kebenaran pengetahuan tsb. Mungkin hanya bisa diperoleh secara probabilistik
Relativism :

  • Realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berllaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial
Historical realism:

  • Realitas yang teramati merupakan realitas “semu” ( virtual reality” yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial budaya, dan ekonomi politik

Tabel 4b PERBEDAAN EPISTEMOLOGIS

KALSIK KONSTRUKTIVIS KRITIS
Dualist/Objectivist :

  • Ada ralitas objetif, sebagai suatu realitas yang eksternal di luar diri peneliti. Peneliti harus sejauh mungkin membuat jarak dengan objek penelitian.
Transacsionalist/Subjectivist:

  • Pemahaman suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi peneliti dengan yang diteliti.
Transacsionalist/Subjectivist:

  • Hubungan peneliti dengan yang diteliti selalu dijembatani nilai-nilai tertentu. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value mediated findings.

Tabel 4c PERBEDAAN AKSIOLOGIS

KLASIK KONSTRUKTIVIS KRITIS
Observer

  • Nilai, etika dan pilihan moral harus berada di luar proses penelitian.
  • Peneliti berperan sebagai disinterest scientist
  • Tujuan penelitian: Eksplanasi, prediksi dan kontrol relitas sosial
Facilitator

  • Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari penelitian
  • Peneliti sebagai passionate participant,fasilitator yang menjembatani keragamana subjektivitas pelaku sosial
  • Tujuan penelitian: rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan yang diteliti
Activist

  • Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari peneltian.
  • Peneliti menempatkan diri sebagai transformative intelectual, advokat dan aktivis
  • Tujuan penelitian: Kritik sosial, transformasi, emansipasi dan social empowerment

Tabel 4d PERBEDAAN METODOLOGIS

KLASIK KONSTRUKTIVIS KRITIS
Interventionist :
pengujian hipotesis dalam struktur hypothetico-deductive method, melalui lab eksperimen atau survai eksplanatif, dengan analisis kuantitatif
Reflective/ Dialectical:Menekankan empati, dan interaksi dialektis antaa peneliti –responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti, melalui metode-metode kualitatif seperti participant observation. Participative :Mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual, dan multi-level analysis yang bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktivis/partisipan dalam proses transformasi sosial
Kriteria kualitas penelitian :Objectivity, Realibility dan Validity ( Internal dan external validity) Kriteria kualitas penelitian :Authenticity dan reflectivity:Sejauhmana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang dihayati oleh pelaku sosial. Kriteria kualitas penelitian :Historical situadness: sejauhmana penelitian memerhatikan konteks historis, sosial, budaya, ekonomi, dan politik

Beberapa hal yang  perlu digarisbawahi mengenai perbedaan dari ketiga paradigma tersebut adalah:

Pertama : peneliti dari kubu paradigma klasik merasa harus menempatkan diri sebagai value free researcher, yang harus senantiasa membuat pemisahan antara nilai-nilai subjektif yang dimilikinya dengan fakta objektif yang diteliti. Seballiknya peneliti dari kubu kritis dan konstruktivis melihat hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak mungkin dan tidak perlu dilakukan. Sebab, setiap penelitian selalu melibatkan value judgment dan keberpihakan pada nilai-nilai tertentu. Pemilihan apa yang akan diteliti ( misalnya efektivitas iklan rokok ataukah akibat negatif iklan rokok merupakan pilihan yang didasarkan atas suatu penilaian subjektif.) Lebih  dari itu, dalam sebuah ilmu yang menjadikan manusia sebagai pokok perhatian, usaha untuk secara “objektif” menempatkan manusia sebagai halnya objek-objek ilmu alam jelas telah merupakan suatu values judgment juga.

 Kedua: penelitian paradigma klasik berangkat dari asumsi ada suatu realitas sosial yang objektif, karena itu suatu penelitian juga haris objektif, yakni untuk memeroleh pengetahuan tentang suatu objek atau realitas sosial sebagaimana adanya. Untuk itu seorang peneliti harus menjaga jarak dengan objek yang diteliti, mencegah agar tidak terjadi interaksi antara subjektivitas dirinya dengan objek yang diteliti. Tujuannya adalah untuk memerolah manfaat, atau signifikansi dari segi akademis, praktis ataupun metodologis.

Sebaliknya, peneliti paradigma kritis justru melihat bahwa objek atau realitas sosial yang mereka amati merupakan penampakan realitas semu ( virtual reality) atau sekedar ekspresi kesadaran palsu ( false consciousness) yang dimiliki manusia, bukan merupakan suatu realitas objektif atau realitas yang sesuai dengan “esensi sebenarnya”  —yang diyakini oleh para peneliti dari kubu kritis seharusnya dimiliki manusia dan dunianya. Tujuannya antara lain untuk memeroleh temuan yang memiliki signifikansi sosial.

Sementara itu, varian tertentu dalam tradisi penelitian konstruktivis merupakan penelitian yang refleksif, yang ingin merefleksikan suatu realitas sosial sesuai dengan penghayatan subjek-subjek yang terkait dalam realitas itu sendiri.

Ketiga : masing-masing paradigma memiliki sendiri kriteria penilaian kualitas suatu penelitian ( goodness criteria).Oleh karena itu sulit, atau bahkan tidak selayaknya kita mempergunakan kriteria yang berlaku dalam paradigma klasik  untuk menilai kualitas sebuah penelitian yang berpijak atas asumsi-asumsi epistemologism ontologis, dan aksilogis dari paradigma lain, demikian pula sebaliknya. (Bersambung)

Dikutip dari :

Hidayat, Dedy N.1999. Bahan Penunjang Kuliah Metodologi Penelitian Komunikasi dan Latihan Penelitian Komunikasi : Bagian I Paradigma Klasik dan Hypothetico –Deductive Method Dalam Penelitian Komunikasi . Jakarta : Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, Hal 3-5.

About these ads

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 13 September 2013.

Satu Tanggapan to “ASUMSI – ASUMSI EPISTEMOLOGI, ONTOLOGI DAN METODOLOGI DALAM PARADIGMA”

  1. […] (Bersambung) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 112 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: