Media Massa Cetak dan Konstruksi Identitas Sosial Masyarakat Modern

  1. PENDAHULUAN

Reformasi Mei 1998 tidak saja membawakan angin segar bagi perkembangan dunia politik tetapi juga suasana baru bagi industri media di Indonesia. Tidak berlebihan jika tahun itu menandai dimulainya “booming media” karena di mana-mana muncul media-media baru, baik media cetak, radio, maupun televisi. Hal ini tak lepas dari kian longgarnya ketentuan dalam perizinan penerbitan maupun pencetakan media massa.

Salah satu di antara media massa cetak yang tumbuh berkembang demikian pesat baik jumlah maupun ragam jenisnya adalah  majalah. Seperti halnya yang terjadi di luar negeri, di Indonesia pun muncul gejala perkembangan majalah yang semakin spesifik segmentasi sasarannya. Mulai dari segmentasi menurut umur dan jenis kelamin, sampai dengan segmentasi menurut spesifikasi isinya misal majalah yang khusus mengupas hoby, gaya hidup, profesi, ketrampilan khusus, dst. Sebagai ilustrasi, majalah wanita terbagi menurut majalah remaja ( cewek ) usia belasan ( remaja dan pra remaja ) seperti Seventeen sampai dengan majalah wanita dewasa ( usia antara 25 – 40-an tahun ) seperti Cosmopoltian yang berfokus pada fashion  dan kecantikan. Sementara majalah untuk perempuan usia 25 – 40-an tahun yang berokus pada dunia rumahan kita temukan misalnya Good Houskeeping. Untuk majalah pria dewasa tak ketinggalan dalam jumlah ragamnya, misalnya majalah Matra, Populer, Male Emperium, FHM dst. yang hampir semuanya mengupas gaya hidup dan pernak-pernik dunia lelaki metropolitan.

Menarik bila kita mengamati dalam berbagai karakter isi media massa cetak jenis majalah ini bahwa dalam media ini sesungguhnya menyimpan potensi sebagai media yang memiliki peran di dalam memproduksi dan mengkonstruksi nilai – tanda. Majalah wanita banyak memproduksi nilai-tanda yang mengekspresikan konsep cantik. Sedangkan majalah remaja didalamnya juga sarat dengan representasi tubuh muda cantik yang lengkap dimuati dengan eskpresi simbolik kehidupan gaul zaman sekarang. Sementara majalah pria dewasa juga bisa mengkonstruksikan nilai-tanda maskulinitas pria dewasa khususnya pria yang hidup dalam konteks masyarakat metropolitan.

Media massa sejalan dengan sifat dasarnya adalah institusi media yang memproduksi dan penyedia informasi memang sedikit banyak akan  terlibat dalam proses perubahan masyarakat, di antaranya ketika dalam masyarakat mengalami semacam transformasi identitas sosial baik yang terjadi pada individu maupun dalam masyarakat keseluruhannya. Tentu saja di sini media massa bukanlah satu-satunya faktor yang menggerakkan perubahan tersebut. Disamping faktor-faktor lain yang demikian kompleks, media massa hanyalah salah satu agent yang turut memainkan peranan tertentu dalam suatu perubahan masyarakat.

2. PERMASALAHAN

Makalah ini selanjutnya akan memfokuskan kajian mengenai peranan yang bisa dimainkan oleh media massa cetak di dalam proses perubahan sosial. Media massa cetak dalam konteks pembahasan kita dibatasi pada jenis media massa majalah; sementara konsep perubahan sosial dalam tulisan ini dikhususkan pada aspek proses konstruksi identitas sosial  yang terjadi dalam masyarakat modern.

3. PEMBAHASAN

a. Media massa dalam konsepsi komunikasi ritual

Mempersoalkan  tentang peranan suatu media terhadap perubahan sosial maka dipandang perlu untuk menempatkan media dalam konsepsi tertentu yang nantinya akan  menjadi pijakan penulis dalam mengawali pembahasan ini. Dalam literatur komunikasi massa, terdapat dua pendekatan dalam mengkaji komunikasi umumnya dan khususnya  kajian media: Pertama, perspektif konvensional yang acapkali disebut sebagai pandangan transmisional. Kedua, yang munculnya sebenarnya jauh lebih dahulu dibanding pandangan transmisional namun tidak begitu populer yang disebut sebagai pandangan ritual ( Carey, 2002 ).

Pandangan transmisional lekat dengan terminologi pengiriman informasi dari satu titik ke titik yang lain. Intinya pandangan ini melihat peristiwa komunikasi sebagai pengiriman pesan-pesan  atau signal-signal melalui suatu jarak tertentu untuk suatu tujuan kontrol terhadap manusia lain atau yang dikirimi pesan.

Dalam konsepsi ritual, komunikasi lekat dengan kata sharing ( saling berbagi ), partisipasi, asosiasi, pengikut, dan kepemilikan akan keyakinan bersama. Definisi seperti ini rupanya buah eksploitasi ide tradisional tentang identitas dan akar kebersamaan yang ada dalam konsep commonnes, lalu communion dan kemudian community akhirnya communication. Pandangan ritual terhadap komunikasi tidak lagi menekankan pada penyebarluasan pesan melalui suatu ruang tertentu melainkan sebagai bentuk pemeliharaan masyarakat dalam suatu waktu; bukan suatu tindakan menanamkan informasi melainkan bentuk penghadiran suatu keyakinan bersama.

Bila model komunikasi transmisional adalah sebagai penyebarluasan pesan melewati wilayah geografi tertentu untuk tujuan kontrol, maka komunikasi dalam konsepsi ritual dilihat sebagai bentuk seremoni yang menarik orang untuk bersama-sama menjadi pengikut dan menjadi bagian sebuah komunitas tertentu.

Para pendukung konsepsi ritual acapkali juga merujuk pada tulisan Durkheim (dalam Carey, 2002 ) “Elementary Forms of Religious Life” dan mendasarkan diri pada argumen bahwa masyarakat digantikan oleh dunia yang nampak pada kita yakni dunia yang berbeda yang merupakan proyeksi dari dunia ideal bentukan sebuah komunitas tertentu. Proyeksi atas dunia ideal dan rupa-rupa bentuknya—semacam tarian, permainan, arsitektur, narasi-narasi , gaya bicara—menciptakan  sebuah pemikiran artifisial dalam tataran simbolik yang fungsinya bukan untuk menyajikan informasi melainkan menguatkan/mengkonfirmasi; bukan dengan menggantikan sikap-sikap atau mengubah pikiran melainkan menghadirkan suatu dasar/landasan pemikiran tertentu; bukan untuk membentuk  fungsi-fungsi  melainkan untuk memantapkan suatu proses sosial yang rapuh secara terus menerus.

RITUAL VIEW OF COMMUNICATION

Di bawah ini adalah gambaran model komunikasi ritual yang dikutip dari Carey ( dalam Real 1996)

 tidak dapat menampilkan gambar

 

 

Gb.1 Komunikasi ritual memahami komunikasi sebagai proses melalui mana kebudayaan  bersama diciptakan, dimodifikasi dan ditransformasikan. Apa yang kita kenal sebagai “kenyataan “  tidaklah ditanamkan dalam diri kita melainkan muncul bersamaan dengan pengalaman kita.

Berikut adalah ilustrasi bagaimana sebuah konsepsi komunikasi yang bertolak belakang yakni antara transmisional dan ritual membawa implikasi yang berbeda dapat dilihat misalnya dari peran sebuah media massa  dalam masyarakat. Jika kita melihat peranan media massa dalam kacamata transmisional maka kita akan melihat media sebagai saluran yang menyuntikkan informasi dan pengetahuan, kadang isinya bersifat membelokkan/menyesatkan,dst. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah  efek yang ditimbulkan media terhadap audience: apakah media menjadi pencerah atau justru menghadirkan realitas semu? Mengubah atau menguatkan sikap yang sudah ada? Melahirkan kepercayaan atau malah memunculkan keraguan? Pertanyaan juga muncul dalam hal isi medianya: apakah isi media menghasilkan integrasi atau justru malah sebaliknya? Apakah berfungsi atau tidak sebagai menjaga kestabilan atau justru mendorong ketidakstabilan terhadap kepribadian?

Pandangan ritual komunikasi sebaliknya akan memfokuskan persoalan yang berbeda. Misalnya, majalah tidak dilihat sebagai pengirim atau penggali informasi semata tetapi lebih sebagai media  yang menyajikan kepada masyarakat  suatu situasi di dalam mana sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru yang dipelajari melainkan sebuah potret realitas dengan cara pandang yang baru. Membaca majalah lalu menjadi sebuah tindakan ritual, bahkan suatu tindakan yang dramatis sifatnya. Ketika seseorang membaca suatu majalah maka seakan orang tersebut diundang untuk ambil bagian dalam suatu dunia yang penuh dengan pertarungan kekuatan-kekuatan ideologis tertentu, meski pembaca itu hanya sebagai seorang pengamat. Pertanyaan yang muncul kemudian tidak lagi soal efek atau fungsi pesan melainkan bagaimana peran penghadiran dan keterlibatan di dalam membentuk kehidupan pembaca dalam suatu waktu. Majalah lalu tidak dimaknai sebagai media yang fungsi isi pesannya memengaruhi atau sumber efek melainkan sebagai media yang secara dramatis menyajikan kenikmatan dengan cara menyajikan suatu yang menjadi akar realitas. Melalui peran ini, maka fungsi yang  dibawakan media massa adalah menghadirkan realitas yang memberi hidup ini dengan  segala macam bentuk, susunan dan nada.

Sebuah “sajian media massa” kemudian juga menjadi realitas historis. Ia menjadi suatu bentuk kebudayaan yang ditumbuhkan oleh sekelompok masyarakat tertentu dalam sebuah titik historis tertentu. Sebagaimana bentuk budaya yang diproduksi, sajian media massa  merefleksikan suatu “kehausan akan pengalaman” — suatu hasrat untuk melakukan sesuatu secara epik, heroik, dan citarasa tradisional akan keunikan, keaslian, suatu kebaruan dan seterusnya.

Di bawah panji komunikasi ritual, sajian media massa lalu bukan lagi sebuah informasi semata  melainkan juga  sebuah drama; ia tidak lagi menggambarkan dunia tetapi potret sebuah drama di mana di dalamnya beradu kekuatan dan action;  ia hadir  dalam sebuah rentang waktu sejarah, dan ia mengundang keterlibatan kita dalam bentuk persepsi yang kita timbulkan, seringkali kita seakan-akan benar-benar mengalami sendiri  suatu peran-peran sosial di mana kita berada.

Konsepsi komunikasi ritual dengan demikian memandang komunikasi sebagai dasar terbentuknya persahabatan umat manusia; ia menghasilkan jalinan sosial yang mengikat manusia bersama-sama dan memungkinkan terjadinya kelompok kehidupan. Masyarakat menjadi ada karena adanya kekuatan-kekuatan yang mengikat yang berasal dari sirkulasi informasi yang dimiliki bersama dalam sebuah sistem organik. Inilah yang menjadi pokok pikiran sekaligus melandasi konsepsi komunikasi ritual.

b. Perubahan Sosial, Politik Representasi dan Transformasi Identitas Sosial

Frase “perubahan sosial” dapat dimaknai secara beragam setidaknya tercermin dari beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan sosial. Salah satu definisi menyebutkan perubahan sosial sebagai perubahan nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan  lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya ( Soekanto, 1990 : 333 ).

Perkembangan media yang semakin pesat salah satunya memunculkan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok sosial yang terbentuk semakin kompleks akibat segmentasi oleh media massa itu.

Terbentuknya kelompok sosial, dalam hal ini adalah kelompok sosial yang informal,  kalau dikaitkan dengan peran media massa terjadi ketika media menyajikan suatu nilai-nilai, konsepsi ataupun suatu gagasan ( ide ) tertentu kepada masyarakat. Menurut Soekanto ( 1990 ) salah satu syarat terbentuknya kelompok sosial adalah adanya ideologi atau pengalaman yang sama. Nilai-nilai itu oleh media direpresentasikan dan sekaligus juga dikonstruksikan melalui sistem nilai-tanda. Sistem nilai-tanda yang dibawakan media lalu memuat serangkaian penanda tertentu yang mewarnai suatu identitas sosial atau kultural tertentu.

Konsep “representasi” dalam studi media massa bisa dilihat dari beberapa aspek bergantung sifat kajiannya. Studi media yang melihat bagaimana wacana berkembang di dalamnya —biasanya dapat ditemukan dalam studi wacana kritis pemberitaan media — memahami “representasi” sebagai konsep yang menunjuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Representasi ini penting dalam dua hal. Pertama, apakah seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan sebagaimana mestinya. Kata “semesti”-nya ini mengacu pada apakah seseorang atau kelompok itu diberitakan apa adanya, ataukah diburukkan. Penggambaran yang tampil bisa jadi adalah penggambaran yang buruk dan cenderung memarjinalkan seseorang atau kelompok tertentu. Di sini hanya citra yang buruk saja yang ditampilkan sementara citra atau sisi yang baik luput dari pemberitaan. Kedua, bagaimana representasi tersebut ditampilkan. Dengan kata, kalimat, aksentuasi dan bantuan foto macam apa seseorang, kelompok atau gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan kepada khalayak. Pendeknya, persoalan utama dalam representasi adalah bagaimana “realitas” atau objek tersebut ditampilkan ( Eriyanto, 2001).

Pengertian “representasi” dalam studi media memang sangat dekat dengan persoalan “realitas “ sebagaimana tercermin dalam definisi yang dikemukakan oleh Branston & Stafford,  sebagai berikut : Representasi bisa diartikan sebagai segenap tanda di dalam mana media menghadirkan kembali ( re-present ) sebuah peristiwa atau realitas. Namun demikian “realitas” yang nampak dalam citraan atau suara tersebut tidaklah semata-mata menghadirkan realitas sebagaimana adanya. Di dalamnya senantiasa akan ditemukan sebuah konstruksi ( a construction ),dengan kata lain, tak pernah ada “jendela” realitas yang benar-benar transparan.

Meskipun dalam praktek representasi diandaikan senantiasa terjadi konstruksi namun konsepsi “representasi” tidak lalu bisa diterjemahkan setara dengan “konstruksi”;  “representasi” bahkan bergerak lebih jauh karena mendekati pertanyaan tentang bagaimana sebuah kelompok atau berbagai kemungkinan hal-hal yang ada di luar media telah direpresentasikan oleh produk suatu media. Pertanyaan tentang “bagaimana” itu lalu membawa implikasi politis yang lebih luas sebagai berikut: Pertama, representasi mengingatkan kita pada dunia politik representasi. Suatu media memberikan kita citraan tertentu, yaitu suatu cara menggambarkan sebuah kelompok tertentu sehingga kita seakan sampai pada pengertian tentang  bagaimana kelompok tersebut  mengalami dunianya, dan bagaimana kelompok tersebut bisa dipahami dan bahkan bagaimana mereka bisa diterima oleh kelompok lainnya. Kedua, dalam praktek representasi suatu media besar memiliki kekuasaan untuk menghadirkan kembali suatu kelompok tertentu, berulang-ulang, beberapa citraan tertentu, beberapa asumsi, dan kuasa untuk meniadakan kelompok yang lain, dan karenanya menjadikan kelompok  yang lain itu menjadi asing dan sulit untuk berhubungan dengannya ( Branston & Stafford, 1996 ). Dalam konteks praktek politik representasi terhadap kelompok etnik tertentu misalnya, dapat kita simak sebagaimana dikemukakan oleh Hall (dalam Gillespie, 1995 )  bahwa dalam politik representasi “ It conceives of representation as not merely expressive but formative of identities; and it conceives of difference not as unbridgeable separation but as positional, conditional and conjunctural”

Peta teoritik mengenai representasi dalam sebuah media selanjutnya ternyata tidak juga hanya membawa kita pada konsep tentang rekonstruksi melainkan juga menghantarkan kita pada pemahaman tentang bagaimana sebuah makna dalam representasi itu dihadirkan; dengan kata lain representasi tidak hanya diyakini senantiasa melekat pada konstruksi tetapi juga pada proses  pemaknaanya. Hal ini tercermin dalam penjelasan Sturken dan Cartwrigth dalam bukunya Practice of Looking sebagai berikut :

Reprensentasi merujuk pada penggunaan bahasa dan imaji untuk menciptakan makna tentang dunia sekitar  kita. Kita menggunakan bahasa untuk memahami, menggambarkan dan menjelaskan dunia yang kita lihat, dan demikian juga dengan penggunaan imaji. Proses ini terlihat melalui sistem representasi, seperti media bahasa dan visual, yang memiliki aturan dan konvensi tentang bagaimana mereka diorganisir ( Sturken & Cartwrigth, 2001).

Bagiamana praktek representasi itu terjadi di media massa kita ikuti ilustrasi berikut : Dalam majalah misalnya, representasi suatu identitas sosial hadir dalam signifikansi imaji-imaji. Suatu rubrik tertentu, akan menampakkan imaji yang menandakan identitas sosial dalam kemasan pemilihan karakter pelakunya, bahasanya, pakaiannya, setting dekorasinya dan seterusnya, dan tentunya keseluruhan tema yang memang dibawakan acara tersebut. Seluruh imaji ini menandakan dan merayakan suatu nilai ideologis tertentu,  seperti nilai feminitas, maskulinitas, popularitas, asimilasi atau pluralistis, dst. lengkap dengan pemaknaan akan nilai baik dan buruk, normal maupun ketidak-normalan.

Makna imaji – imaji yang hadir di media massa tersebut diproduksi dalam dinamika kekuasaan dan ideologi ( Sturken & Cartwright, 2001 ). “Gejala-gejala “ yang kemudian ditangkap dan dianggap  sebagai realitas merupakan salah satu bentuk operasionalisasi  ideologi melalui media massa. Sebagaimana diformulasikan oleh Althusser ( dalam Stevenson, 1995 ) produksi ideologi memiliki dua karakteristik : Pertama, ketika ideologi terikat pada sebuah analisis institusional, hal ini  tidak dapat dipahami sebagai pembalikan atau refleksi dari  yang real. Ideologi dalam kaitan ini lebih dipahami sebagai “ represent the imaginary relationship of individuals to their real condition of existence “; Kedua, ideologi tidak hanya merupakan hubungan simbolik dengan yang real, tapi juga mengubah human beings menjadi subjek-subjek. Ideologi membiarkan individu-individu  mengenali diri  mereka sendiri sebagai self determining agents,  padahal kenyataannya subjek-subjek  tersebut dibentuk melalui mekanisme linguistik dan psikis. Media massa termasuk salah satu, dari apa yang oleh Althusser disebut sebagai Ideological State Apparatus. Media massa adalah aparatus  ideologi yang bergerak dalam praktek-praktek sosial.

Hal ini senada dengan apa yang dinyatakan oleh Stuart Hall (dalam Swastika, 2003 ) bahwa dalam kehidupan masyarakat modern yang serba terspesialisai, media massa mempunyai tiga fungsi kultural yang hebat.  Pertama,  media massa berperan dalam pembagian dan konstruksi selektif pengetahuan  dan imaji sosial di mana lewat itu kita dapat merasakan “dunia”, suatu “kenyataan hidup” dari sesuatu yang lain. Kedua,  media massa berperan merefleksikan semua itu dalam pluralitas; untuk menyediakan inventarisasi gaya hidup dan ideologi yang terobjektivikasi di sana. Fungsi media yang seperti ini tidak hanya membantu kita untuk secara sederhana mengetahui lebih banyak tentang dunia. Ketiga, media massa berperan  mengorganisasikan dan membawa bersama apa yang sudah secara selektif direpresentasikan dan diklasifikasikan. Produksi konsensus dan konstruksi legitimasi tidak semata-mata dilihat dari hasil jadi artikel atau beritanya saja, tapi juga seluruh proses argumen, pertukaran  informasi dan debat yang berlangsung di situ.

Konsepsi tentang identitas sosial yang mengalami “transformasi“, dalam kajian ini diawali dengan asumsi bahwa manusia sebagai subjek senantiasa dihadapkan pada struktur makro, misalnya media dengan segenap muatan ideologisnya  yang seakan menyapa dia dengan menanyakan “siapakah engkau?”. Di sini dipinjam konsep menyapa  atau interpellation ( sapaan ) dari Althuser : bahwa kehadiran media selalu berarti melakukan interpelasi atau penyapaan  dengan khalayaknya ( Althuser dalam Lapsley & Westlake, 1988 : 12 ). Media lalu membawakan sebuah text  yang tidak saja menyapa pemirsanya namun juga menempatkannya sebagai subjek tertentu. Dengan kata lain, si subjek ( pendengar, pembaca atau pemirsa ) dibentuk oleh sebuah text yang dibawakan media; di sini kuasa yang dimiliki media terletak pada kemampuannya untuk “memposisikan” si subjek dengan cara tertentu sehingga representasi si subjek akan menjadi refleksi atas realitas keseharian mereka. Jawaban “diri” si subjek terhadap sapaan media itulah sesungguhnya yang merupakan proses terus menerus dalam pencarian identitas diri di mana seseorang tidak hanya menggunakan satu identitas personal melainkan juga suatu identitas sosial yang kemudian akan merefleksikan keanggotannya dalam suatu kelompok tertentu.

Individu dalam suatu masyarakat modern  memang senantiasa dihadapkan pada pertanyaan –pertanyaan  tentang “identitas diri” sebagaimana dikemukakan oleh Gidden ( 1991 ):

What to do ?How to Act? Who to be ? These are focal questions for everyone living in circumstances of late modernity – and ones which, on some level or another, all of us answer, either discursively or through day- to- day social behaviour”

Lalu bagaimana dengan peran media massa? Media dengan demikian adalah sebagai sebuah cerminan sewaktu terjadi proses pembentukan identitas diri si subjek ketika berhadapan dengan nilai-nilai ideologis yang dikonstruksi media. Institusi ini sedikit banyak membawa pengaruh setidaknya dalam hal persepsi mereka terhadap nilai-nilai atau ideologi yang ditawarkan. Lihat saja, misal, dalam kisah drama yang serius atau sekedar gosip selebrity, menyajikan model-model tentang perlunya “good stories”  yang selalu ditekankan dalam hubungan antarmanusia. Sebaliknya, sajian TV yang senantiasa menampilkan bagaimana kebahagiaan perkawinan tidak pernah langgeng – baik dalam kaitannya dengan peran fiksi yang dimainkan ataukah dalam  kehidupan sesungguhnya para aktris/aktor tersebut –  secara tak terelakkan telah memberi message kepada pemirsa bahwa kehidupan perkawinan monogami yang stabil, adalah sesuatu yang “ídeal” yang sulit diraih, dan hanya sedikit yang mampu untuk menggapainya. Secara eksplisit kita kadang ”didorong” untuk merefleksikan apa yang disajikan oleh majalah dan berbagai jenis buku panduan (self-help book ), dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan dorongan tersebut juga datang secara implisit lewat sajian film, komedi ataupun kisah drama/telenovela. Sementara berita-berita di media massa faktual tanpa sadar juga menginformasikan   berbagai temuan tentang perkembangan gaya hidup dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga modern. Informasi dan ide-ide yang disajikan media massa memang tidak serta merta merefleksikan kehidupan sosial, namun, dia berperan dalam pembentukan dan menjadi sentral dalam cerminan masyarakat modern. (Gidden, dalam Gauntlett 2002)

c. Beberapa kajian tentang majalah di Indonesia

Sekarang kita simak kutipan dari kajian terhadap beberapa majalah yang beredar di Indonesia. Pappilon Halomoan Manurung ( 2004) dalam sebuah studinya berjudul Membaca Representasi Tubuh dan Identitas sebagai Sebuah Tatanan Simbolik dalam Majalah Remaja  memperoleh simpulan bahwa majalah remaja, dalam kasus ini adalah majalah Kawanku,  ternyata telah melakukan konstruksi atas makna remaja dengan menempatkan pembacanya yakni para remaja tersebut ke dalam sebuah bagian tatanan simbolik sebagaimana diatur oleh media. Majalah remaja telah menghadirkan gagasan bagaimana seharusnya menjadi gadis ideal atau menjadi gadis yang “normal”. Gadis yang “normal” sesuai penuturan ideologis majalah remaja ini adalah gadis yang memiliki pacar, berbelanja di mall, mendengarkan musik pop, dst. Gadis yang tidak melakukan atau tidak seperti kategori tersebut akan dikelompokkan sebagai “outsider”. Ini berarti, media telah menyuguhkan kepada pembacanya semacam mode of surveillance ( media berusaha tetap menjaga dan mengawasi normalisasi dengan melakukan pemilahan dan penempatan “tubuh yang terlihat” ini pada ruang dan waktu yang tepat). Media memilah para remaja ( gadis) ke dalam kelompok kita dan yang lain ( “other”). Pembedaan ini tentu saja memuat beberapa stereotype dan identitas sosial tertentu bagi para remaja.

Studi tentang majalah dengan pendekatan semiotik terhadap majalah dengan spesifikasi pria dewasa dengan judul Studi Tanda dalam Media Massa : Representasi Identitas Diri Kaum Pria Modern dalam Majalah Pria Dewasa ( Adi, 2005 ) membawa pada simpulan bahwa majalah pria dewasa di Indonesia, dalam kasus ini majalah F H M, MATRA, Male Emperium, POPULER, Mens’Health, Edisi Januari 2004 sampai dengan Februari 2005 ternyata juga memiliki kecenderungan untuk melakukan konstruksi identitas diri kaum pria modern. Setidaknya terdapat beberapa karakter identitas diri kaum pria modern yang dikonstruksikan oleh majalah-majalah tersebut sebagaimana tercermin dalam catatan berikut :

Pertama, citra identitas diri pria modern yang dikonstruksikan oleh media dalam hal ini majalah pria dewasa di Indonesia  adalah  pria yang masih harus menanggung mitos keperkasaan dan makhluk yang lebih utama ketimbang lawan jenisnya. Mitos keperkasaan itu dibangun dalam mekanisme pendisiplinan tubuh. Mitos keperkasaan ini juga merambah ke makna konotasi perkasa dalam arti kemampuannya untuk menundukkan lawan jenisnya secara seksual. Ada semacam benang merah yang mengaitkan antara kebugaran tubuh – keperkasaan fisik – keperkasaan seksual – dan kebahagiaan. Ikatan ini dibina terus bahkan menjadi semacam ideologi tersendiri yang lalu mencoba memberi definisi siapakah lelaki ideal dan siapa yang bukan.

Kedua, identitas diri pria modern yang juga dimitoskan adalah pria yang senantiasa berdandan, tampil resik, harum dan perlente, menyukai pergaulan dan kerja, selalu menjaga kebugaran dan tak sungkan “berlelah-lelah” merawat diri serta mengeluarkan biaya khusus untuk mendapatkannya atau populer dengan sebutan pria metroseksual. Untuk melengkapi itu, pria modern juga harus senantiasa meng- Up date dirinya dengan perangkat teknologi yang serba canggih baik dalam konteks fungsional maupun artifisial. Identitas terakhir ini akrab dikenal pria teknoseksual. Dunia lelaki dengan identitas yang semacam itu lalu didefinisikan sebagai dunia di luar rumah: ia yang sukses berkarir dan juga berbahagia di kala senggang. Dunia siang lelaki yang diwarnai kesuksesan kerja dan juga dunia malam lelaki yang penuh dengan  kegairahan seksual.

Ketiga, majalah-majalah pria dewasa dalam telaah tersebut juga menangkap sekaligus mem-frame ada semacam krisis identitas diri bagi pria modern sebenarnya ketika dia harus menterjemahkan identitasnya di dalam rumah. Dalam beberapa kasus, media mengkonstruksi pria yang harus bekerja di kawasan dalam rumah ( house husband ) ternyata di-frame sebagai korban dari lawan jenisnya. Eksistensi wanita lalu menjadi sosok yang mengancam jati diri lelaki. Konsep ini kembali menguatkan mitos bahwa pria haruslah lebih dimenangkan, dan wanita adalah pihak yang dinomorsekiankan. Pria adalah subjek dan wanita adalah objek.

Keempat,  media mengkonstruksi identitas diri  pria modern adalah pria yang tak harus tunduk pada norma-noram kultural historis. Di sini ditemukan kontradiksi bahkan nyaris menjadi paradok sebenarnya, yakni ketika media membangun identitas diri pria modern dalam setting kultural yang patriarki sementara dalam waktu yang bersamaan media juga hendak mencabut identitas diri pria modern dari kekuatan norma kultural yang melingkupinya. Jadilah pria modern itu yang tak harus punya komitmen menjadi sosok utama keluarga layaknya suami, juga tak harus memilih hidup berumahtangga ketika kerja dan kegairahan kehidupan malam sudah bisa mengisi hidupnya.

Kelima, corak perspektif yang dibangun beberapa majalah tersebut memang tidaklah seragam, tapi dalam pembacaan semiotik tataran konotatif, majalah pria dewasa yang nampaknya mengumbar sensualisme sebenarnya tidaklah semata menyajikan hiburan. Sukar ditutupi bahwa memang ada nuansa “anti-feminist” pada saat media-media ini mencoba membangkitkan nilai-nilai maskulinitas.

Studi tentang majalah pria dewasa dengan pendekatan analisis wacana media disertai dengan kajian berperspektif konstruktivis terhadap pembacanya bahkan telah dilakukan oleh Diah Kusumawati ( 2006 ). Dalam penelitiannya berjudul Konstruksi Maskulinitas pada Media ( Studi Analisis Wacana pada Majalah FHM )  diperoleh temuan yang menarik di antaranya :

FHM  ternyata telah melakukan konstruksi maskulinitas progresif ( androgini ) yaitu maskulinitas yang leluasa mengembangkan diri ke arah feminitas. Kajian terhadap majalah ini lalu divalidasi dengan kajian terhadap pembacanya. Terdapat beberapa karakteristik maskulinitas yang diinternalisasi oleh pembacanya di antaranya : Maskulinitas yang respek terhadap gender equality( area interpersonal );maskulinitas yang emosional;maskulinitas berorientasi teknologi fashionable; maskulinitas yang caring man  ( area seksual ).   

4. KESIMPULAN DAN KEBIJAKAN

Telaah teoritis yang telah dilakukan dan kemudian diikuti dengan beberapa contoh kasus penelitian tentang beberapa majalah di Indonesia dalam makalah ini setidaknya memberikan gambaran bahwa media massa cetak dalam konteks masyarakat modern ternyata berpeluang untuk memiliki peran yang strategis. Media massa  cetak dalam hal ini majalah merupakan salah satu contoh bagaimana institusi ini dapat berperan dalam proses perubahan masyarakat. Khususnya di Indonesia yang merupakan tipikal masyarakat plural yang tengah berkembang tak terelakkan akan senantiasa terjadi transformasi identitas sosial.

Hanya patut disayangkan bila kita mencermati konsep atau perspektif media massa di Indonesia dalam hal konstruksi identitas diri pria modern ataukah gadis “normal” pada contoh kasus sebelumnya, tampak bahwa media – media tersebut tak luput juga dari gelombang arus dunia hiperreal (realitas semu ) yang menjadi isu sentral wacana postmodern. Mungkinkah media massa di Indonesia telah turut andil dalam menyajikan pengalaman transformasi dalam cara manusia ( pria dewasa modern dan para gadis remaja) melihat diri sendiri secara ontologis di antara objek-objek kebudayan ciptaannya (Baudrillard dalam Piliang 1998 ).

Bila memang benar bahwa media bisa menjebak pembaca sehingga  terjadi misrecognition (Lacan dalam Anika 1977 ) tentu juga akan terjadilah misrecognition identity. Alangkah malangnya makhluk pria modern atau gadis remaja metropolitan itu ketika “aku” yang dibangunnya adalah “aku yang lain” . “Aku” yang telah mengalami penanaman dan pelekatan identitas melalui perampasan individu dari kondisi “naturalnya” dan memasukkan individu dalam suatu tatanan simbolik yang berisi regulasi-regulasi, bahasa dan penamaan dari lingkungannya.

Diperlukan kearifan untuk menyusun content  media betapapun untuk ini harus berseberangan dengan kekuatan kapital bila institusi media memang hendak berperan strategis dan positif dalam sebuah proses perubahan masyarakat yang terus bergerak maju seperti Indonesia. Inilah kalimat terakhir yang merupakan implikasi kebijakan berdasarkan kajian kita tentang media massa cetak dan konstruksi identitas sosial masyarakat modern ini

 

Daftar Pustaka

Branston, Gill & Stafford, Roy. ( 1996). The Media Student’s Book. New York, N.Y.: Roudledge.

Carey, James W. ( 2002). “A Cultural Approach to Communication”. Dalam Dennis Mc Quail ( ed.). Mc.Quail’s Reader in Mass Communication Theory. London : Sage Publication.

Eriyanto. ( 2001). Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : LkiS.

Fiske, John. (1990). Introduction to Communication Studies, 2nd edition. London: Roudlegde

Gauntlett, David. (2002). Media, Gender and Identity.  London: Routledge

Gidden, Anthony. ( 1991).  Modernity and Self Identity: Self and Society in the Late Modern Age.  Cambridge : Polity

Gillespie, Marie. ( 1995 ).Television, Ethnicity and Cultural Change. London &New Yok : Routledge

Lapsley, Robert. & Michael Westlake. ( 1988 ). Film Theory : An Introduction. Manchester: Manchester University Press.

Lemaire, Anika. (1977) Jacques Lacan ( Trans. David Morley). London : Routlegde & Kegan Paul.

Piliang, Yasraf A. (1998). Sebuah DUNIA YANG DILIPAT Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya PosmodernismeBandung: Mizan

Real,Michael. R. (1996 ). Exploring Media Culture : A Guide. USA : Sage Publication.

Soekanto, Soerjono. (1990). Sosiologi Suatu Pengantar.  Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Stevenson, Nick. ( 1995).Understanding Media Culture. London : Sage Publication.

Sturken, M. dan Lisa Cartwright.( 2001). Practices of Looking, an Introduction to Visual Culture. New York: Oxford University Press.

Jurnal Penelitian/Tesis

Diah Kusumawati. ( 2006) . Konstruksi Maskulinitas pada Media ( Studi Analisis Wacana pada Majalah FHM ). Thesis. Program Pascarasarjana Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Manurung, Pappilon Halomoan. ( 2004 ) “Membaca Representasi Tubuh dan Identitas sebagai Sebuah Tatanan Simbolik dalam Majalah Remaja “ . Dalam Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol 1. Nomor 1. Juni 2004. Yogyakarta : Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Tri Nugroho Adi. ( 2005 ) . Studi Tanda dalam Media Massa : Representasi Identitas Diri Kaum Pria Modern dalam Majalah Pria Dewasa. Penelitian – Program Peningkatan Minat dan Kemampuan Penelitian DIPA/SP4. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Surat Kabar

Swastika, Alia .(2003). Feminisme dan Media Massa , Harian Kompas, 28 Oktober 2002

 

About these ads

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 25 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 112 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: